FB Gaming

FB Gaming Untuk Bersenang-senang 😁✌️
√ Hiburan

31/05/2026

Bab 26: Dunia Berlutut di Hadapan "Hantu" Nusantara
Sujiwo berdiri di depan pusaran Celah Hitam yang kini mulai meredup dan mengecil karena seluruh monster di dalamnya telah habis dibantai. Dia berbalik, menatap kapal-kapal perang aliansi manusia dan Guild besar Indonesia yang tersisa.
Semua orang di atas kapal—mulai dari Gatot, para prajurit, hingga para komandan militer asing dari negara adidaya—jatuh berlutut di atas dek. Bukan karena sihir paksaan, melainkan karena rasa hormat, takjub, dan ketakutan yang teramat dalam terhadap sosok di depan mereka.
Mereka menyadari satu hal: Indonesia tidak lagi membutuhkan APN yang korup, tidak lagi membutuhkan bantuan militer asing, dan tidak lagi bisa ditindas oleh korporat mana pun. Karena tanah ini sekarang dijaga oleh satu orang yang berdiri di atas puncak tatanan dunia.
Sujiwo menarik kembali seluruh pasukannya ke dalam bayangan kakinya. Dia menatap Gatot dari kejauhan, lalu memberikan satu pesan terakhir sebelum menghilang.
"APN sudah runtuh. Bangun kembali organisasi yang bersih dari tikus. Kalau gue melihat ada yang korupsi lagi..." Sujiwo melirik dengan mata hijaunya yang tajam. "...pasukan gue yang bakal datang ke rumah kalian."
Wusss.
Sujiwo tenggelam ke dalam bayangan air laut, menghilang tanpa jejak bersama Sang Ratu, kembali ke rumah kayunya yang tenang di kaki Merapi untuk menjaga ibunya.
Di ruang kendali satelit internasional di Washington, Tokyo, dan London, para petinggi dunia hanya bisa menatap layar kosong yang merekam kejadian tersebut dengan tubuh gemetar. Di dokumen rahasia global mereka, nama SUJIWO kini diberi label merah dengan status baru: THE GHOST MONARCH OF NUSANTARA (ANCOMAN LEVEL DEWA - JANGAN DIGANGGU).
TAMAT

31/05/2026

Bab 25: Pembantaian di Atas Laut
​Apa yang terjadi berikutnya bukanlah pertempuran, melainkan pembantaian sepihak.
​Pasukan bayangan Sujiwo merangsek maju seperti air bah yang kelam. Badra dan pasukan Ahool-nya menukik dari langit, merobek sayap-sayap emas milik Lembuswana Dimensi dengan cakar api mereka. Kala menggunakan gada gaibnya untuk menghancurkan tubuh batu para Golem Magma menjadi serpihan tak berarti dalam sekali hantam.
​Nyi Roro Kidul berdiri di samping Sujiwo, menggerakkan tangannya seperti dirigen orkestra. Pusaran-pusaran air raksasa tercipta di bawah kaki monster-monster Celah, menelan mereka ke dasar laut terdalam dan menghancurkan mereka dengan tekanan hidrokinesis mutlak.
​Sujiwo sendiri bergerak seperti kilat hitam. Menggunakan Keris Nenggala yang kini telah berevolusi menjadi Pusaka Jagat (Rank S), dia melompat dari satu kepala Golem ke Golem lainnya, mengeksekusi para pemimpin monster dengan satu tusukan Mana murni yang meledakkan tubuh mereka dari dalam.
​Ding!
​[Anda telah mengalahkan 'Krakatoa Golem Commander' (Rank S).]
[Menerima 50.000 EXP.]
[Level Anda naik! (Level 65 -> Level 70)]
​Hanya dalam waktu tiga puluh menit, ribuan monster berskala Calamity yang tadinya hampir memunahkan aliansi manusia, habis tak bersisa. Selat Sunda kembali sunyi, menyisakan tumpukan abu dimensi yang larut ke dalam air laut.

31/05/2026

Bab 24: Kedatangan Sang Penguasa Jagat Ghaib
​Tepat saat kapal-kapal sisa aliansi bersiap mundur dan membiarkan monster-monster itu menyerbu daratan Jawa dan Sumatra, seluruh Selat Sunda mendadak hening.
​Angin badai yang tadinya menderu tiba-tiba berhenti. Ombak laut yang bergolak mendadak mendatar, menjadi sehalus cermin. Suhu udara drop secara ekstrem hingga membuat air laut di sekitar kapal mulai membeku.
​"A-Apa yang terjadi? Sensor Mana mendeteksi anomali baru!" teriak petugas radar di kapal induk yang tersisa. "Ini... ini bukan energi dari dalam Celah! Energinya datang dari... bawah laut kita sendiri?!"
​DUUUUUMMMM!
​Dari kejauhan, air laut terbelah menjadi dua jalur raksasa. Dari tengah belahan laut tersebut, sesosok pria berjaket hoodie hitam berjalan dengan santai di atas permukaan air, seolah-olah dia sedang berjalan di atas trotoar kota.
​Sujiwo telah tiba.
​Dia tidak sendiri. Di belakangnya, air laut yang terbelah membentuk singgasana raksasa yang dinaiki oleh Nyi Roro Kidul dalam wujud keagungan mistisnya yang penuh. Di sisi kanan dan kirinya, bayangan raksasa Kala (Genderuwo Purba) dan Nandi (Celeng Magma) berdiri seperti dewa pelindung.
​"S-Siapa itu?!" Gatot, dengan tubuh bersimbah darah, menatap ke arah Sujiwo menggunakan teropongnya. Matanya membelalak. "Bocah... Bocah Rank E dari Jogja?!"
​Sujiwo menghentikan langkahnya beberapa ratus meter di depan barisan monster raksasa yang juga ikut terhenti karena merasakan tekanan intimidasi yang luar biasa dari arah Sujiwo.
​Sujiwo menatap ribuan monster di depannya dengan pandangan dingin. Levelnya yang kini telah menyentuh Level 65 membuat jiwanya memancarkan aura otoritas mutlak atas segala bentuk makhluk gaib.
​"Kalian membuat keributan di halaman rumah gue," ucap Sujiwo, suaranya pelan namun bergema di seluruh penjuru Selat Sunda berkat sihir Ratu Laut Selatan.
​Sujiwo perlahan mengangkat tangan kanannya ke udara. Langit yang tadinya berwarna ungu gelap mendadak berubah menjadi hitam pekat sewarna tinta. Bayangan Sujiwo di atas permukaan air laut meluas dengan kecepatan yang tak masuk akal, menutupi seluruh radius Selat Sunda.
​"SABDA MAHARDA... SAMBAT!" (Panggilan Sukma Skala Penuh).
​BOOM! BOOM! BOOM!
​Dari dalam bayangan hitam di atas air laut, bangkitlah pasukan yang membuat seluruh dunia terdiam dalam kengerian dan takjub.
​Ribuan Celeng Magma Bayangan bangkit, berlari di atas air dengan punggung membara api hitam-hijau.
​Ratusan Ahool Raksasa Bayangan yang dipimpin oleh Badra memenuhi langit, menutupi sinar matahari.
​Dan di barisan depan, Kala mengaum hebat, memancarkan aura ketakutan tingkat tinggi yang membuat para Krakatoa Golem di depan mereka bergetar ketakutan.
​"Habisi mereka semua. Jangan sisakan satu pun," perintah Sujiwo sambil menurunkan tangannya.

31/05/2026

Bab 23: Badai Merah di Selat Sunda
​Dua puluh empat jam kemudian, Selat Sunda berubah menjadi pemandangan neraka. Langit di atas laut memancarkan warna ungu kehitaman, dihantam oleh petir Mana yang terus-menerus menyambar. Di tengah laut, sebuah Celah Hitam (Black Gate) Rank S++ berputar horizontal dengan diameter hampir dua kilometer, menghisap air laut membentuk pusaran raksasa.
​Dunia internasional menahan napas. Ini adalah bencana berskala Calamity pertama di Asia Tenggara.
​Karena APN Indonesia telah lumpuh akibat skandal korupsi yang dibongkar Irwan, garis depan pertahanan diserahkan kepada aliansi darurat: Gabungan tiga Guild besar Indonesia yang dipimpin oleh Gatot (Rank S), dibantu oleh armada tempur laut dari faksi internasional (termasuk kapal-kapal perang bertenaga Mana dari negara adidaya).
​"Semua lini, siapkan meriam sihir! Monster gelombang pertama mulai keluar!" teriak Gatot melalui pengeras suara magis dari atas kapal induk.
​ROOOAAARRR!
​Dari dalam Celah Hitam, melompat keluar ribuan monster bertubuh raksasa. Mereka adalah Krakatoa Golem (Raksasa Batu Magma Bawah Laut) dan Lembuswana Dimensi (makhluk berkepala singa, berbelalai gajah, dan bersayap taji emas). Kekuatan satu monster gelombang pertama ini saja sudah setara dengan bos Rank A.
​"TEMBAKKK!"
​Pertempuran pecah. Lautan berubah menjadi medan api. Namun, dalam waktu kurang dari dua jam, aliansi manusia mulai kewalahan. Meriam sihir kapal perang internasional tidak mampu menembus kulit batu magma para Golem. Satu per satu kapal perang terbalik dihantam kibasan ekor Lembuswana Dimensi.
​Gatot, sang Rank S kebanggaan Indonesia, mencoba maju bertarung mandiri. Namun, dia langsung dihantam mundur oleh kepakan sayap badai dari pemimpin monster hingga memuntahkan darah dan tak berdaya di atas dek kapal yang hancur.
​"Gak mungkin... Kita gak bakal menang," bisik salah seorang komandan militer asing dengan wajah penuh keputusasaan saat melihat gelombang monster kedua yang jauh lebih besar mulai merangkak keluar dari Celah. "Evakuasi... REVISI RENCANA! TINGGALKAN INDONESIA!"
​Kiamat tampaknya sudah di depan mata bagi Nusantara.

31/05/2026

Bab 22: Runtuhnya APN (Pagi yang Menggempar)
​Keesokan paginya, tepat pukul 08.00 WIB, seluruh stasiun televisi nasional dan media sosial Indonesia diguncang oleh siaran langsung yang tidak biasa.
​Irwan, Direktur Keamanan APN Pusat yang terkenal berkuasa, berdiri di podium kantornya di depan ratusan wartawan. Dengan mata yang sedikit sayu (efek kendali Nyi Roro), dia membacakan dokumen setebal ratusan halaman.
​"Saya, Irwan, dengan kesadaran penuh, menyatakan mengundurkan diri dan menyerahkan diri ke pihak berwajib. Bersama ini, saya membuka seluruh data korupsi APN Pusat, termasuk pemotongan dana santunan ratusan Pawang Rank rendah, serta kerja sama ilegal dengan Arka Group dalam mengeksploitasi Celah-Celah tak terdaftar demi keuntungan pribadi..."
​Publik histeris. Demo besar-besaran dari kalangan Pawang tingkat bawah dan masyarakat langsung pecah di berbagai kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dan Yogyakarta.
​Guild-guild besar seperti Garuda Nusantara dan Jayakatwang yang tadinya sibuk berebut aset Arka Group, mendadak panik. Nama mereka ikut terseret dalam dokumen yang dibagikan Irwan. Birokrasi APN yang busuk selama puluhan tahun runtuh hanya dalam waktu satu malam.
​Sementara itu, di sebuah warung kopi sederhana di pinggiran Jakarta, Sujiwo duduk santai sambil menikmati kopi hitamnya. Dia melihat berita tersebut dari layar televisi warung.
​"Masyarakat harus tahu siapa tikus yang sebenarnya," gumam Sujiwo tipis.
​Bzzzt...
​Tiba-tiba, ponsel rahasia milik Agent Miller yang kini dipegang Sujiwo bergetar. Sebuah pesan terenkripsi dari markas besar Federal Bureau of Dimensions (FBD) di Amerika Serikat masuk, dikirim secara massal ke seluruh agen regional Asia Tenggara.
​[PERINGATAN DARURAT INTERNASIONAL: Satelit pemantau Mana mendeteksi runtuhnya 'Segel Agung Nusantara' di Pantai Selatan Indonesia telah memicu reaksi berantai. Sebuah 'Celah Hitam' (Black Gate) berskala CALAMITY (Rank S++) terdeteksi akan bermanifestasi di Selat Sunda dalam waktu 48 jam. Seluruh faksi internasional bersiap untuk evakuasi atau intervensi militer.]
​Sujiwo menaruh gelas kopinya. Matanya menyipit tajam.
​Runtuhnya tiga Pawang Rank S Arka Group dan penaklukan Nyi Roro Kidul ternyata berkausalitas lebih besar dari yang dia duga. "Segel Agung" yang selama ini menahan monster-monster purba di dasar bumi Indonesia kini benar-benar longgar karena keseimbangan energinya terganggu.
​Bukan lagi sekadar urusan politik dalam negeri atau balas dendam korporat. Sekarang, Indonesia berada di ambang kehancuran total oleh Celah Rank S++ yang belum pernah terjadi dalam sejarah manusia.
​Sujiwo berdiri dari kursinya, meninggalkan beberapa lembar uang di meja warung. Dia berjalan menuju tempat sepi, siap memanggil Badra untuk menerbangkannya menuju Selat Sunda.
​’APN sudah runtuh, para Guild besar sedang panik...’ batin Sujiwo, sementara jubah bayangannya mulai bergejolak di balik pakaiannya. ’Kalau faksi luar negeri mau mengintervensi tanah ini, mereka harus melompati mayat gue dan pasukan gue dulu.’

31/05/2026

Bab 21: Ekstraksi Sukma Dua Agen Elit
​"B-Bocah gila! Jangan remehkan agen federal!" teriak Miller.
​Sebagai Pawang Rank A tipe pelacak dan petarung taktis, Miller langsung menarik dua pistol khusus yang dimodifikasi dengan peluru batu sihir terkompresi. Dia menembak secara beruntun ke arah Sujiwo.
​BANG! BANG! BANG!
​Peluru-peluru tersebut melesat dengan kecepatan suara, membawa radiasi Mana yang sanggup menembus pelat baja. Namun, sebelum peluru itu menyentuh pakaian Sujiwo, sesosok bayangan tebal bangkit dari aspal. Nandi (Celeng Magma) muncul sebagai dinding tameng hidup. Peluru sihir itu menghantam kulit batu vulkanik Nandi dan hancur menjadi percikan api tanpa memberi efek berarti.
​Di saat yang sama, Kaito—sang pembunuh bayaran Jepang—mencoba menggunakan Skill andalannya: Infiltrasi Pikiran. Matanya berkilat perak, mencoba menembus pertahanan mental Sujiwo untuk menghancurkan kesadarannya dari dalam.
​Namun, begitu kesadaran Kaito mencoba masuk ke dalam pikiran Sujiwo, dia tidak menemukan otak manusia biasa. Kaito justru mendapati dirinya berdiri di depan sebuah gerbang gaib raksasa yang dijaga oleh ribuan tentara bayangan, dengan Nyi Roro Kidul yang menatapnya dari atas takhta dengan pandangan menghina.
​"AAAGHHH?!" Kaito menjerit histeris. Otaknya mengalami backlash (umpan balik) sihir yang mengerikan. Dia muntah darah, berlutut sambil memegangi kepalanya yang serasa mau pecah. Kesadaran mentalnya hancur seketika oleh keagungan sang Ratu.
​"Kalian terlalu lemah untuk bermain di tanah Nusantara," ucap Sujiwo dingin.
​Sujiwo melesat maju. Dengan satu gerakan kilat menggunakan Keris Nenggala, dia memotong jalur napas Miller dan menusuk jantung Kaito yang sudah tak berdaya. Dalam hitungan detik, dua agen elit internasional itu tewas di tempat. Tubuh mereka mulai meredup, bersiap melepaskan sisa Mana mereka ke udara.
​Sujiwo mengulurkan kedua telapak tangannya ke atas raga mereka. Matanya menyala hijau zamrud pekat.
​"SAMBAT!"
​DUUUMMM!
​Petir hitam menyambar langit malam Jakarta yang tertutup kabut Badra. Asap jiwa berwarna biru keperakan (ciri khas Pawang Rank A) dipaksa keluar dari jasad Miller dan Kaito. Asap itu memberontak, namun rantai bayangan dari bawah kaki Sujiwo menarik mereka masuk tanpa ampun ke dalam kegelapan.
​Tanah bergetar sesaat sebelum akhirnya sunyi kembali. Dari dalam bayangan Sujiwo, perlahan bangkit dua sosok manusia. Mereka berwujud Miller dan Kaito, lengkap dengan pakaian taktis mereka, namun kulit mereka kini sewarna abu-abu abu rokok dengan guratan api hijau zamrud di sela-sela urat mereka. Mata mereka kosong, menyala hijau patuh.
​Mereka berlutut di depan Sujiwo.
​Ding!
​[Ekstraksi Sukma Sukses.]
[Khodam Manusia Baru Berhasil Terdaftar:]
​Khodam: 'Miller' (Rank A - Shadow Intel)
​Khodam: 'Kaito' (Rank A - Shadow Assassin)
​"Kembali ke wujud fisik kalian," perintah Sujiwo.
​Ajaibnya, atas perintah Sujiwo, warna kulit kedua Khodam itu berubah kembali seperti manusia normal yang masih hidup, menyembunyikan wujud bayangan mereka. Ini adalah kelebihan Khodam tipe manusia: mereka bisa membaur dengan sempurna.
​"Miller, kembali ke Washington. Kaito, kembali ke Tokyo," Sujiwo menatap kedua budak barunya. "Tetap jalankan tugas kalian sebagai agen seperti biasa. Tapi setiap kali faksi internasional mendeteksi anomali di Indonesia, manipulasi datanya. Jadikan gue sebagai 'hantu' yang tidak pernah ada."
​"Dimengerti, Tuan," jawab keduanya serempak dengan suara tak beremosi, sebelum akhirnya melompat mundur dan menghilang ke arah bandara.

31/05/2026

Bab 20: Jebakan untuk Para Agen Internasional
​Saat Sujiwo bersiap untuk kembali ke dalam bayangan, indra sensoriknya mendadak menangkap adanya getaran energi asing dari jarak 500 meter di atas jembatan layang tol.
​Agent Miller dan Kaito ternyata telah mengintai menggunakan perangkat pelacak canggih mereka. Mereka menyaksikan seluruh kejadian dari kejauhan, terengah-engah melihat bagaimana seorang bocah Rank E mengendalikan dua entitas mitologi legendaris Indonesia sekaligus.
​"Oh Tuhan... itu bukan Hunter tipe Summoner biasa," bisik Miller dengan wajah pucat, tangannya gemetar memegang teropong digitalnya. "Dia... dia adalah penguasa mereka!"
​"Kita harus laporkan ini ke markas pusat sekarang juga—" kata Kaito panik.
​Namun, sebelum Kaito sempat menyelesaikan kalimatnya, sebuah suara terdengar dari belakang mereka, sangat dekat hingga embusan napasnya terasa dingin di tengkuk mereka.
​"Mau buru-buru ke mana, tamu undangan?"
​Miller dan Kaito melompat mundur dengan panik. Di atas pagar pembatas jembatan tol, Sujiwo duduk dengan santai, melirik mereka berdua dengan mata hijaunya yang menyala di kegelapan malam. Di atas langit malam Jakarta, Badra (siluman kelelawar raksasa bayangan) telah membentangkan sayapnya, mengunci seluruh area agar tidak ada sinyal komunikasi atau pelarian yang bisa lolos ke dunia luar.
​Sujiwo perlahan berdiri. "Kalian datang jauh-jauh dari luar negeri cuma buat memata-matai gue? Sayang banget... kalian gak bakal bisa pulang untuk bawa laporan itu."

31/05/2026

Bab 19: Pembersihan Senyap (Memburu Sang Tikus APN)
​Sujiwo memutuskan untuk memulai pembersihannya dari Irwan, Direktur Keamanan APN Pusat. Irwan adalah otak di balik birokrasi korup yang sering memotong anggaran kompensasi untuk keluarga Pawang Rank rendah yang tewas di dalam Celah—termasuk memanipulasi data medis ibu Sujiwo dulu demi kepentingan Arka Group.
​Malam itu, Irwan sedang berada di dalam mobil mewah pribadinya, melintasi jalan tol dalam kota Jakarta yang sepi karena jam sudah menunjukkan pukul 03.00 dini hari.
​Sreeek...
​Tiba-tiba, mesin mobil mati total. Lampu jalan tol di sekitar mereka mendadak meredup, digantikan kabut tipis berwarna hijau yang entah datang dari mana. Supir Irwan panik, mencoba menyalakan mesin namun gagal.
​"Ada apa ini?!" bentak Irwan dari kursi belakang.
​"T-Tidak tahu, Pak! Energi Mana di sekitar kita mendadak melonjak, tapi... tidak ada sinyal Celah!"
​KREEEKKK.
​Atap mobil mewah itu mendadak melesak ke dalam, seperti ditekan oleh beban seberat puluhan ton. Detik berikutnya, pintu mobil kanan dan kiri robek secara paksa seperti kertas raksasa. Dari kegelapan kabut, muncul sesosok makhluk berbulu hitam setinggi empat meter dengan mata merah menyala. Kala (Genderuwo Purba).
​Supir Irwan langsung pingsan karena syok melihat monster legendaris itu berada di tengah jalan tol Jakarta.
​Irwan, yang merupakan Pawang Rank A tipe petarung, mencoba mengeluarkan pedang energinya. "Monster sialan! Bagaimana bisa ada Genderuwo di Jakarta?!"
​Sebelum dia bisa mengayunkan senjatanya, sebuah rantai bayangan hitam pekat melesat dari aspal, melilit kedua tangan dan leher Irwan, mengunci aliran Mana-nya seketika. Dari balik tubuh raksasa Kala, Sujiwo melangkah maju dengan santai.
​"Lama gak ketemu, Pak Direktur," ucap Sujiwo, wajahnya tertutup topeng setengah gagak.
​"K-Kau... Sujiwo?! Kau masih hidup?!" Irwan berteriak, matanya membelalak ngeri melihat aura di sekitar Sujiwo yang jauh lebih pekat daripada para Master Guild Rank S.
​"Gue gak bakal bunuh lu di sini, Irwan," bisik Sujiwo sambil memegang sebuah alat perekam digital mikro milik Arka Group yang berhasil dia curi sebelumnya. "Lu bakal menyerahkan diri ke publik besok pagi. Lu bakal membongkar semua korupsi APN, semua pemotongan dana kompensasi, dan keterlibatan kalian dengan eksperimen ilegal Arka Group."
​"G-Gak bakal! Kalau gue lakukan itu, para Guild besar bakal membunuh gue!"
​Sujiwo tersenyum di balik topengnya. Dia melirik ke arah bayangannya. Dari sana, Nyi Roro memunculkan separuh rupa agungnya. Sang Ratu menatap Irwan dengan mata peraknya yang bersinar.
​Ding!
​[Mengaktifkan Skill: 'Titah Ratu Pemikat' - Cuci Otak Absolut.]
​Jiwa Irwan seketika kosong. Matanya berubah menjadi hijau redup, kehilangan seluruh kehendak bebasnya. Di bawah pengaruh sihir mutlak sang Ratu, Irwan mengangguk patuh seperti boneka.
​"Saya... akan melaksanakan perintah Anda, Tuan," ucap Irwan dengan suara monoton.
​"Bagus. Bersihkan nama-nama para Pawang rendah yang kalian korbankan selama ini," perintah Sujiwo.

31/05/2026

Bab 18: Kedatangan Para Agen Asing
​Sementara APN domestik sibuk berebut kekuasaan, di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, beberapa orang dengan paspor turis melangkah melewati imigrasi. Mereka bukan turis biasa.
​Dari Amerika Serikat, Federal Bureau of Dimensions (FBD) mengirim Agent Miller, seorang Pawang Rank A spesialis pelacak sensorik. Dari Jepang, Asosiasi Hunter Tokyo mengirim Kaito, seorang pembunuh bayaran Rank A dengan kemampuan menyusup ke dalam pikiran.
​"Satelit sihir kita mendeteksi sisa energi yang sangat spesifik saat insiden Kuningan," bisik Miller melalui perangkat komunikasi mikro kepada Kaito saat mereka bertemu di sebuah kafe tersembunyi di Jakarta. "Itu bukan energi dungeon. Itu adalah frekuensi energi purba yang mirip dengan cerita mistis Nusantara. Pemerintah Indonesia terlalu bodoh untuk menyadarinya, tapi organisasi kita tahu... ada 'Kekuatan Terlarang' yang baru saja terbangun di negara ini."
​Target mereka sama: Menemukan Sujiwo, hidup atau mati, dan mengekstraksi rahasia di balik kekuatannya sebelum APN Indonesia menyadarinya.

31/05/2026

Bab 17: Sandiwara di Balik Meja Bundar
​Ruang sidang utama Komite Pusat APN (Asosiasi Pawang Nusantara) di Jakarta Pusat dipenuhi ketegangan. Para pemimpin dari tiga Guild terbesar di Indonesia—Guild Garuda Nusantara, Guild Jayakatwang, dan Guild Swarna Dwipa—duduk mengelilingi meja oval, menatap sinis ke arah perwakilan Arka Group.
​"Kalian ingin kami percaya bahwa seorang Pawang Rank E bernama Sujiwo meratakan laboratorium kalian dan membuat tiga Rank S cacat permanen?" Gatot, Master Guild Garuda Nusantara sekaligus Pawang Rank S terkuat di Indonesia, tertawa meremehkan. "Jangan bikin lelucon, Arka. Bilang saja kalau kalian diserang oleh faksi luar negeri atau korupsi internal, lalu mengambinghitamkan bocah ampas dari Jogja!"
​"Gatot benar," timpal Master Guild Jayakatwang. "Kami sudah mengirim tim ke Jogja. Rumah bocah itu kosong, ibunya hilang, dan data APN menunjukkan tidak ada lonjakan Mana sama sekali di area tempat tinggalnya selama dua minggu terakhir. Dia pasti sudah mati atau kabur ke luar negeri karena ketakutan."
​Mereka tidak tahu, bahwa di sudut ruangan yang remang-remang, tepat di dalam bayangan tirai jendela, sepasang mata hijau zamrud sedang mengawasi mereka semua.
​Sujiwo ada di sana. Dia menggunakan Bayang Semu tingkat tinggi yang telah diperkuat oleh Mana Nyi Roro, membuat keberadaannya benar-benar nihil. Dia mendengarkan setiap rencana busuk para petinggi APN yang berniat membagi-bagi wilayah bisnis perburuan Celah milik Arka Group yang sedang goyah.
​’Saling gigitlah kalian seperti anjing,’ batin Sujiwo dengan senyuman dingin. ’Gue bakal bersihkan kalian satu per satu dari dalam bayangan.’

Address

Banyumas

Opening Hours

Monday 09:00 - 17:00
Tuesday 09:00 - 17:00
Wednesday 09:00 - 17:00
Thursday 09:00 - 17:00
Friday 09:00 - 17:00
Saturday 09:00 - 17:00
Sunday 09:00 - 17:00

Telephone

+628567736369

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when FB Gaming posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to FB Gaming:

Shortcuts

Share