Kelas Tambang

Kelas Tambang Platform edukasi & training pertambangan Indonesia. Kelas batubara, nikel, regulasi, K3 tambang, mine planning. Webinar | Workshop | In-House Training.

Daftar: kelastambang.com

Pembicara Confirmed: Ridzza DjumriKelasTambang menghadirkan Coal Mining Tax Risk Clinic 2026, workshop publik satu hari ...
20/05/2026

Pembicara Confirmed: Ridzza Djumri

KelasTambang menghadirkan Coal Mining Tax Risk Clinic 2026, workshop publik satu hari untuk membantu perusahaan batubara menutup celah pajak dari kontrak, cost treatment, transfer pricing, dan audit data.

Workshop ini akan dibawakan oleh:

Ridzza Djumri
Tax Attorney and Managing Partner
RDJ Advisory – Tax and Advocate

Topik yang akan dibahas antara lain:

✅ Kontrak offtake batubara dari sudut pandang fiskus
✅ Cost treatment: kapitalisasi vs expense, stripping cost, biaya rehabilitasi
✅ Transfer pricing batubara
✅ Management fee dan intercompany service
✅ Intercompany loan
✅ Dokumentasi audit-ready
✅ Tax gate
✅ Audit trail data
✅ Simulasi audit pajak
✅ Peta risiko fiskal perusahaan batubara

Workshop ini bukan sosialisasi peraturan pajak.

Fokusnya adalah membantu perusahaan mengidentifikasi celah nyata, menghitung eksposur risiko, dan membangun posisi yang lebih defensif sebelum fiskus datang.

Coal Mining Tax Risk Clinic 2026
📅 Selasa, 28 Juli 2026
📍 Jakarta
⏰ 08.30 – 16.30 WIB
👥 Maksimal 35 peserta
💼 Untuk CFO, Tax, Legal, Commercial, Operations, dan Internal Audit
💰 Rp 3.250.000 per peserta, ekskl. PPN

Informasi dan pendaftaran:
https://kelastambang.com/pajak/
[email protected]

HPM Nikel Baru Sudah Berlaku. Sudahkah Angka Margin Anda Di-update?Sejak 15 April 2026, HPM Nikel baru berdasarkan Kepme...
11/05/2026

HPM Nikel Baru Sudah Berlaku. Sudahkah Angka Margin Anda Di-update?

Sejak 15 April 2026, HPM Nikel baru berdasarkan Kepmen ESDM 144/2026 sudah berlaku efektif.

Dampaknya bukan hanya pada harga ore.

Perubahan ini bisa memengaruhi:

✅ royalti per ton ore
✅ margin penambang nikel
✅ biaya produksi HPAL/MHP
✅ posisi negosiasi dengan smelter
✅ asumsi RKAB
✅ kelayakan proyek nikel ke depan

Karena itu, KelasTambang menghadirkan workshop publik satu hari:

HPM Nikel Baru:
Dampak terhadap Profit Margin dan Kelayakan Proyek

Menghitung ulang royalti, margin HPAL & kelayakan proyek

Workshop ini bukan sosialisasi regulasi.

Fokusnya adalah membaca ulang angka, dampak margin, skenario biaya, dan strategi adaptasi setelah HPM baru berlaku.

Narasumber confirmed:

Agus Superiadi
Senior Advisor / Consultant
Mantan President Director — PT Sulawesi Cahaya Mineral, Merdeka Battery Group
Mantan Director & Senior GM — PT Vale Indonesia Tbk

Meidy Katrin Lengkey
Sekretaris Umum — Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI)

Tanggal: 25 Juni 2026
Waktu: 08.30 – 16.20 WIB
Tempat: Jakarta
Kuota: hanya 30 kursi
Investasi: Rp 3.250.000
Early Bird: Rp 2.750.000 s/d H-14

Workshop ini dirancang untuk:

CFO, Commercial Head, Finance Manager, Cost Manager, KTT, Business Development, Investor Relations, Treasury, Commercial Contract, penambang nikel, smelter, HPAL/MHP producer, dan analis industri nikel.

Setiap bulan tanpa penyesuaian kalkulasi margin, RKAB, dan posisi negosiasi bisa menjadi bulan yang menggerus profitabilitas.

Detail agenda dan pendaftaran:

https://kelastambang.com/hpm/

kelastambang.com

Kuota dibatasi hanya 30 peserta agar diskusi tetap fokus, praktis, dan memungkinkan peserta membawa pertanyaan nyata dari lapangan.

73,6% Nikel Dunia Kini Satu Koridor. Pertanyaannya: Margin Anda Naik atau Turun?Buyer global tidak lagi melihat satu neg...
08/05/2026

73,6% Nikel Dunia Kini Satu Koridor. Pertanyaannya: Margin Anda Naik atau Turun?

Buyer global tidak lagi melihat satu negara. Mereka melihat rantai pasok regional.
Dan mulai minggu ini, Indonesia + Filipina resmi bergerak sebagai satu blok.
Penandatanganan MoU antara APNI dan PNIA di Cebu, Filipina (hari ini Jumat, 8 mei 2026) — disaksikan langsung oleh Menko Airlangga — bukan seremoni biasa. Ini sinyal bahwa 73,6% suplai nikel dunia mulai dikonsolidasikan dalam satu “koridor”.
“Kolaborasi ini bukan sekadar kerja sama biasa. Ini adalah fondasi bagi Indonesia-Philippines Nickel Corridor, sebuah platform terstruktur yang menghubungkan kekuatan hilirisasi dan smelter Indonesia dengan pasokan bijih nikel hulu dari Filipina. Ini akan menjadi poros cadangan dan produksi nikel yang tak terpisahkan bagi dunia,” ujar Menko Airlangga

Artinya apa untuk bisnis Anda?
• Smelter Indonesia tidak lagi hanya bergantung pada feedstock domestik → feedstock security naik, tapi juga kompetisi blending makin ketat
• Filipina naik kelas dari eksportir bijih → value chain makin panjang, margin berpindah
• Buyer global (EV, stainless) akan mulai menilai stabilitas supply lintas negara, bukan satu origin

Kalau Anda di commercial, procurement, atau strategy — ini bukan berita. Ini perubahan posisi tawar.
Dan di tengah ini, peran asosiasi seperti APNI (Meidy Katrin Lengkey) akan makin menentukan arah negosiasi industri.

Pertanyaannya:
Apakah pricing, kontrak, dan asumsi proyek Anda sudah mencerminkan realitas baru ini?
________________________________________
KelasTambang sedang membedah implikasi nyatanya — bukan di level wacana, tapi ke angka.
Dalam workshop / newsletter terbaru:

“HPM Nikel Baru: Dampak terhadap Profit Margin dan Kelayakan Proyek”

Kami breakdown:
• Bagaimana perubahan HPM + struktur supply regional memukul IRR proyek
• Skenario blending & implikasi ke cost
• Framework cepat untuk evaluasi margin (yang bisa langsung dipakai tim Anda)
Jika Anda perlu memastikan keputusan minggu ini tidak salah arah, ini tempatnya.

Akses di sini: https://kelastambang.com/hpm/

Kalau saya ikuti beberapa minggu terakhir, banyak di feed saya mampir postingan yang isinya hampir sama:RKAB 2026 yang b...
08/05/2026

Kalau saya ikuti beberapa minggu terakhir, banyak di feed saya mampir postingan yang isinya hampir sama:

RKAB 2026 yang bikin sebagian pemain nikel harus ngerem,

rencana bea ekspor & windfall tax batubara–nikel yang maju mundur tapi nggak pernah benar‑benar hilang dari meja pemerintah.

Saya sih bukan orang yang tiap hari pakai safety shoes di pit.
Tapi hampir tiap hari saya baca artikel di media, laporan‑laporan terkait tambang, ikuti postingan teman‑teman di industri, dan ngopi sekadar ngobrol dengan orang tambang yang lagi pusing ngejar perkembangan kebijakan dan merapikan model finansialnya.

Pola yang saya lihat sederhana:
berita kebijakan bergerak cepat,
tapi spreadsheet banyak perusahaan masih pakai asumsi 2024.

Apalagi dengan kombinasi:

kuota nikel 2026 yang dipotong ke sekitar 260–270 Mt,

wacana bea ekspor & windfall tax untuk batubara dan nikel yang baru ditegaskan lagi awal Mei ini.

Di titik ini saya kepikiran satu hal:
“Kalau angka‑angka di Excel belum di‑stress test untuk dunia 2026,
berapa banyak keputusan besar yang sebenarnya diambil dengan kacamata lama?”

Karena itu saya lagi siapkan satu ruang kecil untuk bantu orang tambang keep up dengan perubahan ini.
Yang saya pikirkan adalah workshop satu hari bernama:

Fiscal & RKAB Shock Lab 2026 (by KelasTambang).

Bukan tempat saya menggurui.
Peran saya lebih ke fasilitator:
menyediakan struktur diskusi, template stress test, dan contoh skenario,
supaya tim Anda bisa jujur menguji ulang angka sendiri di tengah perubahan RKAB dan rencana pajak ekspor / windfall ini.

Formatnya sederhana:

bawa 1 proyek yang paling critical buat perusahaan Anda,

kita bedah bersama 3 skenario: pajak naik, kuota seret, harga goyang,

Anda pulang bawa file yang bisa langsung dipakai di meeting internal atau dengan bank.

Kalau Anda KTT, CFO, atau Head Commercial yang ngerasa:
“kok tiap hari baca berita, tapi spreadsheet belum sempat diutak‑atik,”
boleh kirim DM dengan kata LAB 2026.

Saya kirimkan dulu outline materinya.
Kalau terasa relevan, silakan join batch pertama. Kalau tidak, ya minimal Anda dapat kerangka pikirnya dulu.

🚨 **PERINGATAN KRITIS UNTUK PELAKU INDUSTRI NIKEL!** 🚨Sejak 15 April 2026, Kepmen ESDM 144/2026 tentang Harga Patokan Mi...
06/05/2026

🚨 **PERINGATAN KRITIS UNTUK PELAKU INDUSTRI NIKEL!** 🚨

Sejak 15 April 2026, Kepmen ESDM 144/2026 tentang Harga Patokan Mineral (HPM) Nikel telah berlaku efektif. Ini BUKAN sekadar regulasi baru, tapi game changer yang berpotensi menggerus profitabilitas dan mengubah total kelayakan proyek Anda.

Apakah Anda sudah menghitung ulang royalti, margin HPAL, dan posisi negosiasi Anda? Banyak studi kelayakan yang kini kadaluarsa, dan proyek yang dulu bankable bisa diam-diam sudah masuk zona margin tipis, bahkan negatif!

Setiap hari tanpa penyesuaian adalah bulan yang menggerus profit. Jangan biarkan perusahaan Anda merugi karena salah kalkulasi atau terlambat beradaptasi.

KelasTambang mempersembahkan workshop eksklusif: HPM Nikel Baru: Menjaga Profit & Kelayakan Proyek.

Bersama para ahli, Anda akan mendapatkan:

✅ Bedah angka dampak HPM per kadar Ni secara mendalam.
✅ Kalkulasi margin HPAL yang akurat.
✅ Strategi RKAB yang realistis.
✅ Pola adaptasi penambang yang berhasil mempertahankan profitabilitas.

**Kuota TERBATAS hanya 30 kursi** untuk memastikan diskusi mendalam dan solusi personal. Amankan posisi Anda sekarang dan lindungi profit perusahaan Anda!

➡️ **Daftar Early Bird (Hemat Rp 500.000) di [Link Pendaftaran]**
*Early Bird berakhir 20 Mei 2026. Jangan sampai ketinggalan!*

https://kelastambang.com/hpm/

HPM Nikel Berubah. Apakah Model Bisnis Anda Sudah Siap?Kepmen ESDM No. 144/2026 resmi mengubah formula HPM Nikel — royal...
05/05/2026

HPM Nikel Berubah. Apakah Model Bisnis Anda Sudah Siap?

Kepmen ESDM No. 144/2026 resmi mengubah formula HPM Nikel — royalti naik, cost MHP/HPAL ikut bergerak, dan asumsi lama di RKAB Anda bisa jadi sudah tidak relevan.

Pertanyaannya: sudah berapa jauh perusahaan Anda menghitung ulang?

📌 Workshop Satu Hari — 25 Juni 2026 | Jakarta
"Kelayakan Proyek Nikel: HPM, HPAL & RKAB Update 2026"

Dalam satu hari penuh, peserta akan:
✅ Mengurai formula HPM baru ke angka royalti per ton yang konkret
✅ Update model cashflow & RKAB agar bebas dari asumsi pre-HPM
✅ Menyiapkan argumen negosiasi berbasis data sebelum duduk di meja smelter

🎯 Hanya 30 kursi | Early Bird: Rp 2.750.000 (berlaku H-14)
🌐 Daftar: kelastambang.com/hpm

Cocok untuk: Tim Finance & Planning penambang nikel, operator smelter HPAL, dan investor proyek nikel.

Tag rekan Anda yang perlu tahu ini 👇

Pagi ini scroll LinkedIn, mata saya tertahan di satu press release: PLTS Atap 22,5 MW baru saja diresmikan di Kompleks M...
30/04/2026

Pagi ini scroll LinkedIn, mata saya tertahan di satu press release: PLTS Atap 22,5 MW baru saja diresmikan di Kompleks Mulia Industri, Cikarang. Angka 36.862 panel surya terdengar besar, tapi yang benar-benar membuat saya bisa membayangkan skalanya adalah satu kalimat: "122.783 m², setara 17 kali luas lapangan Gelora B**g Karno". Tanpa melihat areanya langsung, saya langsung bisa memvisualisasikan betapa masifnya instalasi ini. Ini bukan lagi pilot project—ini skala industrial yang sesungguhnya.

PT Muliaglass dan PT Muliakeramik Indahraya, dua pabrik yang beroperasi 24/7, kini menjalankan produksi kaca dan keramik dengan dukungan PLTS Atap terbesar di sektor komersial dan industri Indonesia. Sistem ini menghasilkan rata-rata 68.500 kWh per hari dan diproyeksikan memangkas lebih dari 26,8 juta kg emisi CO₂ per tahun—setara penyerapan karbon oleh 198.258 pohon. Yang menarik dari keputusan mereka: skema zero upfront cost melalui Xurya. Artinya, cashflow tidak terganggu di awal, risiko teknis diserahkan ke mitra berpengalaman, dan fokus tetap pada efisiensi operasional jangka panjang.

Tapi yang membuat saya berpikir lebih jauh: kalau 122 ribu m² atap pabrik bisa jadi 22,5 MW, bagaimana dengan ribuan hektar lahan bekas tambang yang kita punya? Riset IESR menyebut Indonesia punya potensi 59 GW PLTS dari lahan bekas tambang batu bara—1.190 km² yang akan tersedia dari 26 tambang yang berakhir kontraknya di 2030. Tapi realisasinya? Baru 600 MW direncanakan, belum terpasang semua. Ini gap yang sangat besar: kurang dari 1% dari potensi.

PTBA sudah mengumumkan rencana PLTS di Ombilin, Tanjung Enim, dan Bantuas sejak 2021 —tapi hingga kini belum ada progress signifikan dari target >500 MW by 2030. PT Timah berhasil operasikan pilot PLTS Apung dan Rooftop skala kecil di lahan reklamasi, tapi ini masih demo scale, belum commercial scale seperti Muliaglass.

Ini bukan soal teknis semata. Ini soal business model, bankability, offtake agreement, land stability assessment, grid connection, dan bagaimana memasukkan PLTS ke dalam mine closure plan yang bisa disetujui regulator. Banyak mine manager dan CFO yang saya temui di berbagai diskusi mengakui: mereka tahu ada potensi, tapi bingung dari mana mulai, bagaimana hitung IRR-nya, siapa yang jadi off-taker, dan skema financing apa yang cocok.

Di KelasTambang, kami sering mendapat pertanyaan serupa dari praktisi yang sedang menyusun post-mining land use plan. Makanya kami mulai menyiapkan diskusi dan workshop khusus untuk tema "Void to Value: Transformasi Lahan Bekas Tambang Menjadi Solar Farm yang Bankable"—bukan sekadar bicara potensi, tapi langsung masuk ke feasibility framework, financial modeling, regulatory pathway, dan ex*****on roadmap yang bisa dibawa pulang dan diaplikasikan.

Pertanyaan buat teman-teman praktisi: Bagi yang sedang menyiapkan mine closure plan atau reklamasi produktif—apa yang jadi bottleneck terbesar? Apakah soal regulasi (bagaimana PLTS masuk ke dokumen reklamasi), soal finance (bagaimana hitung NPV reklamasi + PLTS vs reklamasi konvensional), atau soal teknis (apakah void/overburden dump cocok untuk solar farm)? Dan kalau ada yang sudah punya experience atau pilot project, boleh share juga—kami semua belajar dari praktisi yang sudah jalan duluan.

Terus terang, saya salut dengan teman‑teman MGEI.Di tengah jadwal kerjaan yang padat, regulasi yang terus bergerak, dan ...
30/04/2026

Terus terang, saya salut dengan teman‑teman MGEI.
Di tengah jadwal kerjaan yang padat, regulasi yang terus bergerak, dan tekanan target perusahaan, mereka masih bisa mengorganisir MGEI CEO Forum 2026 dengan rapi. Pembicaranya pun bukan sekadar “nama besar di poster”, tapi orang‑orang yang memang memegang peran kunci di eksplorasi, investasi, dan kebijakan mineral Indonesia.

Tema tahun ini menggelitik:
“Exploration as an Investment Strategy: Boosting Exploration Incentives to Generate the Next Mineral Wealth.”
Kalimat ini mengajak kita mengubah cara pandang: dari eksplorasi sebagai beban biaya (cost center), menjadi eksplorasi sebagai strategi investasi untuk ketahanan mineral Indonesia jangka panjang.

Beberapa pesan yang menurut saya penting untuk dicatat:

Ketua MGEI, Rosalyn Wullandhary, mengingatkan bahwa produksi tambang hari ini adalah hasil eksplorasi beberapa dekade lalu. Kalau kita berhenti berinvestasi di eksplorasi sekarang, 10–20 tahun lagi kita akan panen kekurangan cadangan.

Sekjen IAGI, Mirzam Abdurrachman, menegaskan bahwa kekayaan mineral terbesar justru ada di yang belum ditemukan. Eksplorasi bukan sekadar aktivitas teknis, tapi keputusan investasi tentang masa depan ekonomi.

Dari sisi pemerintah, perwakilan Kementerian ESDM dan Kementerian Investasi/Hilirisasi menekankan pentingnya iklim investasi yang kompetitif: perizinan berbasis risiko (OSS), kepastian hukum, dan kemudahan di tahap early stage. Tanpa ini, sulit mengharapkan discovery baru.

Taprof Lemhannas, Edi Permadi, mengaitkan semuanya dengan tata kelola dan target pertumbuhan ekonomi. Hilirisasi dan industrialisasi tidak akan berjalan jika hulu tersendat oleh ketidakpastian regulasi dan ketiadaan cadangan baru.

Diskusi juga menyentuh satu poin krusial:
eksplorasi punya risiko tinggi di awal, sehingga perlu insentif dan skema pembagian risiko yang jelas. Tanpa itu, banyak perusahaan akan ragu mengambil langkah mencari discovery baru, dan pada akhirnya pasokan bahan baku hilirisasi bisa stagnan.

Sebagai tindak lanjut, MGEI akan menyusun policy brief berisi rekomendasi strategis untuk memperkuat daya tarik investasi eksplorasi di Indonesia. Ini langkah penting, karena suara praktisi dan geologist dari lapangan perlu diterjemahkan menjadi masukan kebijakan yang konkret dan bisa ditindaklanjuti.

Dari kacamata KelasTambang, kami melihat satu benang merah:
forum seperti MGEI CEO Forum ini penuh insight, tapi sering kali dokumentasi dan narasinya belum maksimal menjangkau publik yang lebih luas—mulai dari engineer muda, pelaku industri, sampai calon investor. Padahal, kalau kisah dan gagasan ini dituliskan dengan bahasa yang lebih ringan dan edukatif, dampaknya bisa jauh lebih besar.

Itu sebabnya KelasTambang hadir sebagai partner berpikir dan penulisan di dunia tambang, energi, dan hilirisasi:
membantu menerjemahkan diskusi teknis dan kebijakan menjadi tulisan yang mudah dipahami, tetap akurat, dan relevan untuk pengambilan keputusan bisnis.

Kalau komunitas atau perusahaanmu juga sering membuat forum, webinar, atau diskusi bernas yang kemudian hanya berhenti di grup WhatsApp atau file notulen, mungkin ini saat yang pas untuk bertanya:
“Bagaimana caranya agar setiap percakapan penting punya jejak tulisan yang kuat, yang bisa dibaca lagi dan menginspirasi lebih banyak orang di industri?”

Kemarin di acara MGEI CEO Forum 2026 (Rabu, 29 April 2026), saya duduk cukup di depan saat sesi Pak Heldy Satrya Putera,...
30/04/2026

Kemarin di acara MGEI CEO Forum 2026 (Rabu, 29 April 2026), saya duduk cukup di depan saat sesi Pak Heldy Satrya Putera, sebagai keynote dari perwakilan Kementerian Investasi dan Hilirisasi. Dari situ terasa sekali bagaimana narasi hilirisasi sekarang sudah bergeser: bukan hanya bicara larangan ekspor, tapi menyambungkan hulu tambang dengan agenda energi dan investasi jangka panjang Indonesia.

Beliau membuka dengan capaian investasi: target 13.000 triliun rupiah untuk periode 2025–2029 dan realisasi hampir 500 triliun di triwulan pertama 2026, dengan industri logam dasar sebagai salah satu kontributor utama. Di titik ini, hilirisasi tidak lagi sekadar kebijakan, tapi sudah menjadi mesin utama pendorong pertumbuhan dan penciptaan lapangan kerja di sektor tambang dan industri pengolahan.

Bagian yang paling menarik buat saya adalah ketika beliau membandingkan dua cerita: nikel dan bauksit. Di nikel, Indonesia sudah mulai membangun ekosistem EV dari hulu ke hilir – dari tambang, smelter, bahan baku baterai, pabrik baterai, sampai ke kendaraan listrik dan rencana recycling di dalam negeri. Di bauksit, arah yang sama sedang dicoba: ekspor ore sudah dilarang, smelter alumina dan aluminium didorong, dan bauksit mulai diposisikan sebagai salah satu fondasi ekosistem panel surya nasional.

Di sana juga disampaikan bahwa panel surya tidak hanya soal aluminium. Kita butuh ekosistem silica sand dan copper foil yang kuat, karena Indonesia menargetkan program 100 gigawatt panel surya dan ingin sebanyak mungkin komponennya diproduksi di dalam negeri. Saat ini, katanya, sekitar 60–70 persen ekosistem panel surya sudah ada di Indonesia, dan harapannya berkembang seperti ekosistem baterai – lengkap dari hulu sampai hilir.

Dari sudut pandang praktisi tambang, poin pentingnya sederhana tapi menantang: tambang harus tetap didorong untuk menjaga kepastian bahan baku, sementara pemerintah dan industri bersama sama menghitung kebutuhan jangka panjang supaya tidak mengulang kasus oversupply seperti di nikel. Di sinilah geologist, mine planner, smelter engineer, dan tim finance/legal sebenarnya sedang memainkan peran penting: memastikan desain pit, cadangan, dan kontrak pasokan nyambung dengan roadmap smelter dan proyek PLTS 20–30 tahun ke depan.

Di KelasTambang, kami melihat cerita hilirisasi bauksit dan panel surya ini sebagai undangan untuk diskusi yang lebih dalam: bagaimana mengubah headline kebijakan menjadi keputusan di pit, pabrik, dan boardroom. Mungkin ke depan menarik kalau kita buka ruang obrolan lebih terstruktur soal A–Z Hilirisasi Bauksit & Solar Panel Ecosystem – dari eksplorasi, desain tambang, strategi smelter, sampai project finance dan risiko pasar. Menurut teman teman, bagian mana yang paling mendesak dibedah dulu?

, , , , , , , ,

Kemarin Rabu (29 April 2026), di salah satu ballroom Four Seasons Jakarta, saya menyaksikan sesuatu yang menarik: eksplo...
30/04/2026

Kemarin Rabu (29 April 2026), di salah satu ballroom Four Seasons Jakarta, saya menyaksikan sesuatu yang menarik: eksplorasi tambang dibahas bukan hanya sebagai biaya, tapi sebagai strategi investasi di level CEO. MGEI CEO Forum 2026 mengumpulkan regulator, pemilik aset, dan kontraktor besar untuk menjawab satu pertanyaan penting: bagaimana mendorong eksplorasi supaya benar‑benar melahirkan “next mineral wealth”, bukan sekadar menambah meter bor di laporan.

Di Panel Session 2 dengan tema “Enabling Exploration Investment Climate: Policy, Data, and Risk‑Sharing Frameworks”, Pak Daud Erikson Silitonga, President Director PT Puncakbaru Jayatama, duduk satu panggung dengan perwakilan Pamapersada Nusantara, Far East Gold, dan Lemhannas. Yang membuat sesi ini terasa beda adalah perspektif lapangan yang beliau bawa: perjalanan Puncakbaru dari “sekolahnya Newcrest” di Gosowong sampai sekarang mengelola proyek eksplorasi di Indonesia dan delapan konsesi di Saudi Arabia bersama partner lokal.

Beberapa poin yang menurut saya paling “mengena” untuk praktisi tambang dan finansial:

Eksplorasi itu extremely high risk – kurang dari 1% prospect yang benar‑benar jadi tambang, dengan lead time bisa sampai 10 tahun, sehingga desain policy, kualitas data, dan skema risk sharing bukan lagi tambahan, tapi syarat hidup‑matinya proyek.

Saudi Arabia bisa menarik pemain seperti Puncakbaru karena kombinasi regulasi yang jelas, data geologi terpusat dan tervalidasi, serta insentif pendanaan eksplorasi dan capex sampai sekitar 75% untuk proyek yang layak.

Di level deal, pilihannya bukan cuma “punya IUP sendiri atau tidak sama sekali”; joint venture, farm‑in/farm‑out, dan technical partnership bisa dipakai untuk membagi risiko dan memanfaatkan kekuatan masing‑masing pihak.

Yang menarik, banyak framework yang dipakai Puncakbaru di Saudi sebenarnya sangat relevan untuk ekspansi di dalam negeri: mulai dari cara membaca iklim perizinan suatu daerah, memaksimalkan data sebelum bor, sampai menyusun tahapan go/no‑go supaya capital tidak habis tanpa checkpoint yang jelas. Bagi KTT, exploration manager, sampai CFO, ini bukan lagi soal “berapa lubang yang dibor”, tetapi bagaimana eksplorasi disusun sedemikian rupa sehingga masuk akal secara bisnis dan bankable di mata investor.

Di KelasTambang, kami melihat pengalaman seperti ini sebagai bahan belajar yang sangat berharga. Bukan hanya untuk yang mau ekspansi ke luar negeri, tapi juga untuk perusahaan yang ingin memperkuat strategi eksplorasi di Indonesia dulu: bagaimana mendesain program, memilih skema kemitraan, dan menghubungkan keputusan geologi dengan margin dan cashflow perusahaan.

Kalau teman‑teman diberi kesempatan mengupas lebih dalam pengalaman PT Puncakbaru ini dalam format kelas atau in‑house training, topik apa yang paling ingin dibahas: strategi ekspansi ke luar negeri, manajemen risiko eksplorasi, atau desain partnership dan deal structure?

Silakan tulis di kolom komentar, supaya diskusi yang dimulai di forum ini bisa terus hidup dan bermanfaat buat lebih banyak praktisi tambang Indonesia.

Address

Jakarta

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Kelas Tambang posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share