IDNFinancials

IDNFinancials Indonesia's premier stock and marketplace platform. | Available on Google Play |

IDNFinancials is a Video and Technological Platform for Indonesia's stock exchange.

JAKARTA – Perdagangan saham investor asing di Bursa Efek Indonesia pada Senin (8/6) ditutup dengan net buy atau pembelia...
08/06/2026

JAKARTA – Perdagangan saham investor asing di Bursa Efek Indonesia pada Senin (8/6) ditutup dengan net buy atau pembelian bersih. 

Pada hari bursa sebelumnya, Jumat (5/6), perdagangan asing ditutup dengan net sell sebesar 1,32 miliar lembar. Namun, angka ini melonjak hingga 2,35 miliar lembar di posisi net buy hari ini.

Volume perdagangan asing pun tampak fluktuatif. Volume saham pembelian asing (foreign buy) naik dari 7,08 miliar lembar menjadi 9,80 miliar, sedangkan volume saham penjualan asing (foreign sell) malah turun dari 8,40 miliar lembar menjadi 7,45 miliar.

Baca selengkapnya: https://idnfin.id/a64560

JAKARTA – PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) telah mendapatkan persetujuan Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPS...
08/06/2026

JAKARTA – PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) telah mendapatkan persetujuan Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) untuk membagikan dividen tunai Rp21,9 triliun – atau sekitar Rp221 per lembar – untuk tahun buku 2025.

Alokasi ini lebih tinggi 4,3% dari alokasi dividen tahun buku 2024 sebesar Rp21 triliun atau Rp212,5 per lembar.  Padahal, laba bersih TLKM tercatat menyusut 20,5% secara tahunan pada tahun 2025 menjadi Rp17,8 triliun.

TLKM pun harus merogoh Rp4,2 triliun sisanya dari saldo laba ditahan Perseroan pada tahun buku sebelumnya untuk menggenapi alokasi dividen kali ini.

Dengan demikian, rasio pembayaran dividen (dividend payout ratio) TLKM untuk tahun 2025 mencapai sekitar 123%, dan memecahkan rekor tertingginya sepanjang masa, menurut data yang dihimpun IDNFinancials.com.

Sebagai catatan, pada tahun buku 2024, TLKM juga menyiapkan dividen dengan alokasi terbesar terhadap laba bersihnya (payout ratio) dalam 5 tahun terakhir – tepat setelah masuknya Danantara ke dalam Badan Usaha Milik Negara (BUMN) pada 2025 lalu.

Kini, PT Danantara Asset Management menguasai 51,57% saham TLKM, dan diproyeksi menerima bagian dividen hingga Rp11,3 triliun untuk tahun buku 2025.

Sementara itu, The Bank of New York Mellon DR menggenggam 5,93% saham TLKM dan akan menerima dividen Rp1,3 triliun. Kemudian, dividen yang akan dibagikan kepada masyarakat mencapai total Rp9,22 triliun dari bagian saham 42,13%.

Mengutip siaran resmi TLKM, Senin (8/6), dividen akan dibayarkan selambat-lambatnya pada 10 Juli 2026, dengan recording date Daftar Pemegang Saham Perseroan pada 19 Juni 2026.

Baca selengkapnya: https://idnfin.id/a64561

JAKARTA – PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI) menjajaki penerbitan Obligasi Berkelanjutan I Tahap I Tahun 2026 dan Suku...
08/06/2026

JAKARTA – PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI) menjajaki penerbitan Obligasi Berkelanjutan I Tahap I Tahun 2026 dan Sukuk Ijarah Berkelanjutan I Tahap I Tahun 2026 masing-masing senilai Rp1,25 triliun pada 23 Juni 2026 mendatang.

Penerbitan ini adalah bagian dari Penawaran Umum Obligasi dan Sukuk Ijarah Berkelanjutan I WIFI dengan total target himpunan dana Rp5 triliun.

Kini, Perseroan tengah berada dalam fase masa penawaran awal (bookbuilding) hingga 17 Juni 2026.

WIFI mengungkap bahwa baik obligasi maupun sukuk ijarah akan ditawarkan dalam tiga seri, meski detail nilai tiap seri belum diungkapkan. Namun, tiga seri tersebut akan ditawarkan dengan jangka waktu beragam, yaitu 370 hari, 2 tahun, dan 3 tahun.

Perseroan juga belum menentukan besaran kupon tiap seri. Meski demikian, WIFI akan membayar kupon obligasi dan imbal hasil sukuk ijarah tiap tiga bulan, degan pembayaran pertama diproyeksi jatuh pada 26 September 2026.

Manajemen WIFI mengungkap bahwa seluruh dana hasil penerbitan instrumen utang ini akan disalurkan sebagai fasilitas pembiayaan pembelian kepada entitas anaknya, yaitu PT Telemedia Komunikasi Pratama (TKP) – penyelenggara proyek Internet Rakyat (IRA).

“Seluruh dana tersebut akan digunakan oleh TKP sebagai belanja modal dalam rangka pembangunan Fixed Wireless Access (FWA) dengan memanfaatkan pita frekuensi 1,4 GHz yang berlokasi di Pulau Jawa,” jelas manajemen.

Rinciannya adalah sebagai berikut:

1. Sekitar 32,37% dari hasil penerbitan obligasi dan sukuk ijarah untuk pembelian 680 unit perangkat Customer Premises Equipment (CPE)
2. Sekitar 62,83% dari hasil penerbitan obligasi dan sukuk ijarah untuk pembelian 680.000 unit perangkat Radio Access Network (RAN)
3. Sekitar 4,80% dari hasil penerbitan obligasi dan sukuk ijarah untuk biaya jasa penggelaran berupa biaya instalasi atau pemasangan perangkat.

Baca selengkapnya: https://idnfin.id/a64554

JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup turun 252,63 poin atau 4,52% ke level 5.342,14 pada perdagangan Sen...
08/06/2026

JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup turun 252,63 poin atau 4,52% ke level 5.342,14 pada perdagangan Senin (8/6), membawa indeks acuan saham Indonesia ini ke level terendah sekitar 4,5 tahun atau sejak November 2020.

Data Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan nilai transaksi di seluruh pasar mencapai Rp21,73 triliun pada perdagangan Senin, melibatkan 32,52 miliar lembar saham.

Beberapa saham dengan nilai transaksi tertinggi yaitu PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) Rp3,47 triliun, PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) Rp2,53 triliun, dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) Rp1,66 triliun.

Namun harga saham ketiga emiten tersebut cukup beragam, dengan BBCA turun 4,43%. Sementara harga saham TPIA melesat 22,99% dan BBRI turun 5,47%.

Analis Phintraco Sekuritas menilai tekanan terhadap pasar dipicu kombinasi sentimen domestik dan global.

Menurut riset yang disampaikan usai penutupan perdagangan, meningkatnya ketegangan antara Iran dan Israel telah mendorong harga minyak mentah kembali melonjak 4%. Lonjakan ini dinilai membebani mayoritas bursa saham Asia awal pekan ini, termasuk IHSG.

Secara teknikal, analis Phintraco menyebut IHSG telah ditutup di bawah level Moving Average (MA) 200 bulanan. "Sehingga potensi penurunan IHSG lebih lanjut masih berpeluang terbuka secara teknikal," jelas analis Phintraco.

Baca selengkapnya: https://idnfin.id/a64558

08/06/2026

"maka dunia akan memahami kemampuan Iran yang sebenarnya, karena kekuatan darat kita berkali-kali lebih besar daripada rudal kita."

Ia juga menyebut konflik terbaru dengan AS dan Israel sebagai keberhasilan terbesar Iran dalam sejarah Republik Islam.

"Ini adalah pertama kalinya Iran keluar sebagai pemenang dalam peperangan, sementara dalam peperangan sebelumnya Iran selalu kalah."

JAKARTA - SCG Chemicals Public Company Limited (SCGC), pemegang saham jangka panjang PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) ...
08/06/2026

JAKARTA - SCG Chemicals Public Company Limited (SCGC), pemegang saham jangka panjang PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) asal Thailand, tercatat telah melepas 12,85 miliar lembar saham dalam kurun waktu 2-5 Juni 2026, atau setara dengan 14,86%.

Dalam keterangan resmi, Senin (8/6), manajemen TPIA menjelaskan bahwa aksi divestasi masif ini merupakan transaksi penyeimbangan kepemilikan saham (shareholding rebalancing).

Sebelum transaksi, SCGC menguasai 30,57% saham TPIA per Mei 2026. Namun, pascatransaksi tersebut, porsi SCGC di TPIA hanya tersisa 15,71%.

“Tetap menjadi salah satu pemegang saham strategis jangka panjang Perseroan,” tegas manajemen lebih lanjut.

Merujuk pada laman resminya, TPIA telah menjalin kerja sama strategis dengan Siam Cement Group (SCG) sejak 2011 melalui anak usahanya SCGC.

Berdasarkan penelusuran IDNFinancials, SCGC pertama membeli 30% saham TPIA pada 19 September 2011, atau sekitar 919,86 juta lembar, dengan harga sekitar Rp4.088 per lembar.

“Investasi ini senilai Rp3.760.383.285.400 (sekitar ฿13.500 juta),” jelas The Siam Cement Public Company Limited dalam keterangan resmi di Stock Exchange of Thailang (SET) pada September 2011 lalu.

Kini, berdasarkan keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI), SCGC menjual saham TPIA dengan harga bervariasi, namun tak ada yang melebihi Rp2.070 per lembar – atau 49,4% lebih rendah dari harga pembelian pada 2011 lalu.

Namun, total nilai divestasi 12,85 miliar lembar tersebut tetap tercatat mencapai Rp14,33 triliun, atau mencatat capital gain sekitar 281,14% dibandingkan harga pembeliannya 15 tahun lalu.

Berita terkait: https://idnfin.id/a64541

JAKARTA - PT Jaya Konstruksi Manggala Pratama Tbk (JKON) menetapkan pembagian dividen tunai sebesar Rp32,62 miliar atau ...
08/06/2026

JAKARTA - PT Jaya Konstruksi Manggala Pratama Tbk (JKON) menetapkan pembagian dividen tunai sebesar Rp32,62 miliar atau Rp2 per saham dari laba bersih tahun buku 2025.

Menurut keterbukaan informasi BEI, keputusan tersebut disahkan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang berlangsung pada 3 Juni 2026.

Dengan mengacu pada harga penutupan saham JKON di level Rp65 per saham pada 5 Juni 2026, dividen tersebut mencerminkan dividend yield sekitar 3,08%.

Berdasarkan data IDNFinancials, JKON menetapkan dividen final tahun buku 2024 sebesar Rp3,25 per saham. Nilai tersebut lebih rendah dibandingkan dividen tahun buku 2023 yang mencapai Rp4,25 per saham.

Sementara itu, untuk tahun buku 2022, perseroan membagikan dividen sebesar Rp3 per saham.

Dengan demikian, dividen tahun buku 2025 yang sebesar Rp2 per saham menjadi yang terendah dalam empat tahun terakhir.

Berikut jadwal lengkap pembagian dividen tunai JKON tahun buku 2025,

* Cum dividen pasar reguler dan negosiasi: 11 Juni 2026
* Ex dividen pasar reguler dan negosiasi: 12 Juni 2026
* Cum dividen pasar tunai: 15 Juni 2026
* Ex dividen pasar tunai: 17 Juni 2026
* Recording date: 15 Juni 2026
* Pembayaran dividen tunai: 3 Juli 2026

Berita terkait: https://idnfin.id/a64533

JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah 2,87% atau 160,46 poin pada perdagangan sesi pertama dan bertahan d...
08/06/2026

JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah 2,87% atau 160,46 poin pada perdagangan sesi pertama dan bertahan di level 5.434,31.

Total transaksi saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) mencapai Rp12,92 triliun, melibatkan perdagangan 20,24 miliar lembar saham.

Sebanyak 88 saham mencatat kenaikan harga, namun 646 saham melemah dan 79 lainnya stagnan.

Seluruh indeks sektoral di BEI juga bergerak melemah, dengan pelemahan paling dalam pada sektor kesehatan (IDXHEALTH) yang mencapai 6,01% dan infrastruktur (IDXINFRA) 4,72%.

Namun meskipun lebih banyak saham yang melemah, investor asing justru mencatat net buy atau pembelian bersih pada sesi pertama. Data BEI mencatat volume net buy investor asing mencapai 1,71 miliar lembar.

Namun berdasarkan nilai transaksi, investor asing mencatat net sell atau penjualan bersih Rp325 miliar.

Baca selengkapnya: https://idnfin.id/a64539

JAKARTA – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan tidak ada perubahan aturan bagi pela...
08/06/2026

JAKARTA – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan tidak ada perubahan aturan bagi pelaku usaha di sektor mineral dan batu bara (minerba).

Menurut Bahlil, dalam konferensi pers bersama Pimpinan DPR RI pada Senin (8/6) hari ini, skema gross split hanya berlaku untuk sektor minyak dan gas bumi (migas). Hal ini sekaligus menepis rumor bahwa pemerintah akan mengubah skema kontrak sektor minerba.

Bahlil mengaku penegasan ini diperlukan agar memberikan kepastian kepada pelaku usaha.

“Saya ulangi, yang menganut perhitungan gross split hanya ada pada sektor migas, minyak dan gas,” kata Bahlil. “Sementara di sektor minerba tidak ada perubahan sama sekali,” imbuhnya.

Selain itu, Bahlil menjamin bahwa pemerintah akan mendukung pasokan bahan baku dalam negeri yang dibutuhkan untuk program hilirisasi.

Sebagai tindak lanjut, Kementerian ESDM akan meninjau pemberian Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) sesuai kebutuhan industri, agar kapasitas produksi dan kebutuhan bahan baku tetap seimbang.

“Kewajiban pemerintah adalah memastikan seluruh bahan baku yang bersumber dari negara kita harus ada,” ujar Bahlil.

Baca selengkapnya: https://idnfin.id/a64536

JAKARTA – Posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Mei 2026 tersisa US$144,9 miliar, turun sekitar 0,89% dibandingkan...
08/06/2026

JAKARTA – Posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Mei 2026 tersisa US$144,9 miliar, turun sekitar 0,89% dibandingkan posisi akhir April 2026 yang mencapai US$146,2 miliar.

Penurunan tersebut membuat cadangan devisa Indonesia berada di level terendah sejak Juli 2024 atau hampir dua tahun terakhir. Berdasarkan data historis Bank Indonesia (BI), posisi cadangan devisa pada Juli 2024 berada di kisaran US$145 miliar.

Penurunan pada Mei juga memperpanjang tren menyusutnya cadangan devisa Indonesia, yang telah berlangsung selama lima bulan berturut-turut atau sejak mencapai puncaknya US$156 miliar pada Desember 2025.

BI menjelaskan perkembangan cadangan devisa pada Mei dipengaruhi oleh penerbitan global bond pemerintah hingga penerimaan pajak dan jasa. Pada saat yang sama, pemerintah Indonesia melakukan pembayaran utang luar negeri dan menjalankan stabilisasi nilai tukar rupiah.

Meski demikian, BI menilai posisi cadangan devisa tetap kuat. Cadangan devisa pada akhir Mei dinilai setara dengan pembiayaan 5,6 bulan impor atau 5,5 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.

“Bank Indonesia menilai cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan,” ungkap Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, dalam keterangan resminya pada Senin (8/6).

Ke depan, kata Ramdan, BI yakin ketahanan eksternal Indonesia tetap terjaga didukung posisi cadangan devisa yang memadai.

Baca selengkapnya: https://idnfin.id/a64534

Address

Plaza Mutiara, Jalan Drive Ide Anak Agung Gde Agung Kav E. 1. 2 No. 1-2, Mega Kuningan
Jakarta
12950

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when IDNFinancials posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share