29/12/2025
Menjelang libur Natal dan Tahun Baru, lonjakan transaksi digital dimanfaatkan penjahat siber untuk melakukan penipuan, mulai dari phishing hingga deepfake berbasis AI. Di tengah proyeksi belanja masyarakat Indonesia yang mencapai Rp120 triliun, kerugian akibat penipuan justru sangat besar.
Data VIDA mencatat Rp8,2 triliun dana korban hilang dalam setahun terakhir, namun hanya 4,76 persen yang berhasil diselamatkan. Sementara Indonesia Anti-Scam Center (IASC) menerima lebih dari 373 ribu laporan penipuan dalam setahun, dengan rata-rata 874 laporan per hari. Dari ratusan ribu rekening terkait penipuan, hanya sebagian kecil yang berhasil diblokir.
Periode liburan dinilai menjadi momen ideal bagi penipu karena meningkatnya aktivitas transaksi dan melemahnya kewaspadaan. Sekitar 80 persen pembobolan akun terjadi akibat lemahnya OTP berbasis SMS dan phishing. Selain itu, penipuan deepfake melonjak hingga 1.550 persen, dengan teknologi AI Voice Cloning yang mampu meniru suara keluarga atau atasan hampir sempurna untuk meminta transfer dana.
OJK mencatat kerugian lebih dari Rp4 triliun dari modus penipuan telepon palsu, belanja online, dan investasi. Rendahnya tingkat penyelamatan dana juga dipicu keterlambatan pelaporan korban di Indonesia yang rata-rata mencapai 12 jam.
Bank Indonesia, OJK, dan BSSN mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan dan menjaga identitas digital, terutama selama periode liburan, dengan menghindari Wi-Fi publik, memverifikasi permintaan darurat, waspada terhadap tekanan urgensi, mengecek detail transfer, serta beralih ke autentikasi biometrik yang lebih aman dibanding OTP SMS.