12/03/2018
*HIDUP YANG BERARTI*
Suatu sore seperti biasanya seorang pemuda pulang kantor dengan mengendarai sepeda motornya. Ia tertarik melihat seorang anak yang berumur lebih kurang 10 tahun dengan sangat sigap menyalip di sela² kepadatan kendaraan lampu merah.
Dengan membawa bungkusan yang cukup banyak di ayunkannya sepedanya sambil membagikan bungkusan tersebut. Ia menyapa akrab setiap orang dari tukang koran, penyapu jalan, tuna wisma sampai pak polisi.
Kejadian ini sangat menarik dan membuat pemuda itu penasaran, lalu ia membuntuti anak kecil itu sampai di seberang jalan hingga terjadilah percakapan. Apakah saya boleh bertanya ? Sapa si pemuda, silakan kak, jawab anak kecil tersebut.
Kalau boleh tahu, apa yang barusan kamu bagikan ke tukang koran, tukang sapu, pe-minta² bahkan pak polisi ? Oh, itu bungkusan nasi dan sedikit lauk kak, emang kenapa ?
Oh tidak, kakak tertarik cara kamu berbagi, kamu terlihat terbiasa dan akrab. Apa kamu sudah lama mengenal mereka ? Lalu anak itu bercerita, dulu aku dan ibuku sama seperti mereka hanya seorang tuna wisma.
Setiap hari bekerja dan berharap belas kasihan dari orang lain, hidup kami begitu susah. Hingga suatu hari ibuku membuka warung nasi dan kehidupan kami mulai membaik.
Ibu selalu mengingatkanku, bahwa masih banyak orang yang susah seperti kita dulu. Ketika kita diberi rejeki yang cukup, Kenapa kita tidak dapat berbagi kepada mereka ?
Jika hari ini kita bisa mengamalkan sesuatu yang baik buat orang banyak kenapa harus di tunda ? Hidup akan berarti jika kita mau membagikan sesuatu untuk orang lain dan tidak hanya fokus untuk menyenangkan diri sendiri.
*HIDUP HARUS BERARTI BUAT BANYAK ORANG*