Desainer Kampung

Desainer Kampung Berisi tentang informasi seputar desain grafis

oh Allah , protect the children of Palestine
18/11/2015

oh Allah , protect the children of Palestine

Tentang Bapak- Ayah- Abi atau sebutan lainnya. Aku menangis melihat film ini. Sosok Ayah bekerja keras menjadi apa saja,...
09/10/2015

Tentang Bapak- Ayah- Abi atau sebutan lainnya. Aku menangis melihat film ini. Sosok Ayah bekerja keras menjadi apa saja, Badut, Loper Koran dll. Yang penting halal dan baik. "Kaya bukan seberapa banyak uang kita dapat. Namun seberapa banyak yang kita beri," - Ale

https://www.youtube.com/watch?v=1DUYlHZsZfc

Watch more Asian Short Films at https://www.viddsee.com This Boy Never Saw His Dad As An Inspiration. Until He Found Out His Big Secret A son confronts the r...

Hanya Sebuah Survey Sederhana Buat Pelayan Restoran Ini. Sampai Ia Mendapatkan Kejutan Bersama Ibunya Yang Bikin Kita Se...
03/09/2015

Hanya Sebuah Survey Sederhana Buat Pelayan Restoran Ini. Sampai Ia Mendapatkan Kejutan Bersama Ibunya Yang Bikin Kita Semua Menangis.

Sumber : blog.batikindonesia.com

"สิ่งที่คุณจะได้เห็น คือความรู้สึกจริงๆของลูกที่มีต่อแม่ ........ " ทุกคน อยากมีเวลาอยู่กับแม่ในวันแม่ แต่ไม่ใช่ทุกคน ที่มีโอกาส... บาร์บีคิวพลาซ่า เห็นความส...

11/07/2015

Jangan pernah menilai seseorang ketika Anda tidak mengenal mereka. Tidak peduli apa yang orang katakan selama Anda tahu apa yang Anda lakukan adalah benar. Seperti cerita yang sangat menyentuh ini. Berdasarkan Kisah Nyata. Anda harus menonton dari awal sampai akhir. Ini benar-benar menyentuh hati.

Sumber : Considus.com.

"Terdakwa perampok ini menangis ketika bertemu hakim yang tak lain adalah teman sekolahnya dulu"Mindy Glazer dan Arthur ...
06/07/2015

"Terdakwa perampok ini menangis ketika bertemu hakim yang tak lain adalah teman sekolahnya dulu"

Mindy Glazer dan Arthur Booth pernah satu sekolah di Sekolah Menengah Nautilus, Florida, Amerika Serikat. Keduanya adalah pelajar yang berprestasi. Booth menjadi pelajar yang baik dan atlet sekolah. Glazer meneruskan studinya di sekolah hukum. Awal pekan ini keduanya bertemu di tempat yang tidak terduga: ruang pengadilan. Glazer menjadi hakim atas kasus perampokan dilakukan Booth. Ketika Booth memasuki ruang persidangan dalam pakaian terdakwa berwarna jingga dan berdiri di depan hakim, perempuan itu menanyakan apakah terdakwa pernah sekolah di Sekolah Menengah Nautilus, di Pantai Miami. Booth menjawab dia pernah sekolah di sana lalu dengan penuh emosional dia terkejut. "Ya Tuhan, ya Tuhan," kata dia sambil tersedu, seperti dilansir surat kabar the Independent, Jumat (3/7). Glazer kemudian mengatakan pada hadirin di ruang sidang bahwa Booth dulunya adalah anak baik dan paling berprestasi di sekolah. Dia s**a penasaran bagaimana nasib Booth di kemudian hari. "Saya dulu s**a bermain bola dengan dia, semua anak-anak s**a, tapi lihat apa yang terjadi sekarang," kata dia. "Saya sedih melihat ini.," kata Glazer, seperti dikutip Local10.com. Sepupu Booth, Melissa Miller, mengatakan pria itu memang dulunya siswa yang baik dan menjadi atlet sekolah, tapi narkoba menjerumuskannya ke lubang hitam kehidupan dan dia menjadi pelau kriminal. "Ini mengingatkan betapa cerdasnya dia dulu. ia seorang sarjana, atlet, dan menguasai dua bahasa," kata Miller. "Ini sungguh menyedihkan. Hati saya sedih. Kami berusaha meminta pertolongan karena dia sungguh butuh bantuan." Glazer akhirnya menjatuhkan vonis bagi Booth. "Saya harap Anda baik-baik saja setelah vonis ini dan menaati hukum," kata dia. Glazer lalu membebaskan mantan teman sekolahnya itu dengan syarat membayar uang jaminan senilai Rp 588 juta. Booth kini masih tetap dipenjara.

Sumber : merdeka.com

Simak videonya dibawah ini :

https://www.youtube.com/watch?v=eiR_B5Cj-3Y&feature=youtu.be

Mindy Glazer dan Arthur Booth pernah satu sekolah di Sekolah Menengah Nautilus, Florida, Amerika Serikat. Keduanya adalah pelajar yang berprestasi. Booth men...

Cowok Ini Ke sekolah Sambil Membawa Dagangan “slondhok”Namanya Desi Priharyana (17), siswa kelas 1 SMKN 2 Jetis. Desi bi...
27/06/2015

Cowok Ini Ke sekolah Sambil Membawa Dagangan “slondhok”

Namanya Desi Priharyana (17), siswa kelas 1 SMKN 2 Jetis. Desi bisa disebut pekerja keras di kehidupan desa dan kota. Demi sekolah dia bangun tidur jam 3 pagi di sebuah toko sembako tempat dia menumpang tinggal malam untuk bekerja menjaga toko kelontong paruh waktu di Desa Toino, Pandowoharjo, Sleman Yogyakarta. Dia mau melakukan pekerjaan apa saja yang penting halal, mulai berjualan slondok hingga menjadi buruh bangunan.

Desi Priharyana adalah warga Dusun Taino, Desa Pendowoharjo, Kecamatan Sleman, berangkat sekolah dengan mengayuh sepeda dengan krombong hijau di jok belakang yang berisi bungkusan-bungkusan slondok. Jika pagi hujan deras tidak pernah menyurutkan niat pelajar kelas 1 SMKN 2 Jetis jurusan Teknik Konstruksi Batu dan Beton ini untuk terus mengayuh sepedanya sejauh 15 kilometer menuju sekolahnya di SMKN 2 Jetis, Kota Yogyakarta.

Saat ini dia tinggal bersama Ayahnya pak Kamto dan adiknya dititipkan ke budhenya, nama adiknya Rini Dwi Lestari. Disepanjang jalan tak pernah ada KATA MENYERAH, hanya terus kayuh sekuatnya untuk SAMPAI SEKOLAH. Semangat YANG LUAR BIASA untuk seumurannya. Demi sekolah dan biaya hidup keluarganya dia harus menjalani seperti ini. Salut dan bangga. Saya tanya mulai kapan berjualan Slondok? cukup lama sejak dia kelas SMP. Setiap harinya Desi membawa sekitar 25 bungkus slondok di dalam krombong-nya. Seharian bisa menjual 10-25 bungkus slondok. Harga satu bungkus slondok dijual Rp 7.000. Kadang sampai sekolahan dagangan slondoknya sudah habis di beli para pengguna jalan yang memberhentikan Desi mengayuh sepeda onthelnya.
Pembelinya ya orang-orang yang ada di pinggir jalan. Ada juga guru-guru serta teman-teman sekolah. Ya sekitar 200ribuan dapetnya, lumayan buat beli alat tulis dan uang saku buat adik.

Meski ke sekolah sambil berjualan slondok dengan sepeda onthel dan krombong, Desi tidak pernah merasa malu dengan teman sebayanya yang kebanyakan berangkat sekolah dengan sepeda motor. Desi merasa apa yang dilakukannya bukanlah sesuatu yang memalukan.

Sumber: FB Ama Yudiawan, gaulfresh.com

 #2Di sekeliling kita pun, ada banyak pedagang kecil yang mungkin sering kita perlakukan tidak adil.Meski latar belakang...
16/06/2015

#2
Di sekeliling kita pun, ada banyak pedagang kecil yang mungkin sering kita perlakukan tidak adil.
Meski latar belakang video tersebut berada di India, tapi sepertinya masih relevan dengan keadaan di sekitar kita di Indonesia. Mungkin, kita sering mengumpat dalam hati ketika pedagang kecil di sekitar kita memberikan harga yang sepertinya terlalu mahal buat kita.

“Bapaknya mau naik haji kalik nih masa kacang rebus aja lima ribu!”

Sementara kita biasa merasakan barang serupa di cafe, mall, atau restaurant dengan harga yang lebih mahal berkali-kali lipat dari harga yang diberikan pedagang tersebut. Tapi, tak sedikit pun kita merasa kemahalan atas harga yang ditawarkan. Mungkin, kita akan menjawab, ya tentu saja, karena di tempat-tempat tersebut ada pajak, sewa tempat, dan banyak hal yang dibebankan kepada pembeli.

Yang kita tidak tahu, pedagang kecil di sekeliling kita harus bangun lebih pagi untuk menyiapkan dagangan, pulang lebih larut agar dagangannya habis dan tidak tersisa. Ada biaya ‘keamanan’ yang mungkin harus mereka keluarkan saat berjualan di jalan. Tak jarang, mereka harus mempertaruhkan keselamatan diri mereka untuk berjualan di tengah jalan atau naik turun bus kota dalam keadaan berjalan.
Mereka tak ingin dikasihani. Mereka juga bukan meminta sedekah. Yang mereka inginkan adalah kita membeli yang mereka jual dengan ikhlas. Kadang tak jarang kan kita menemui pedagang seperti ini yang sudah lanjut usia. Mereka tetap dengan gigih menjajakan barang dagangannya dengan sopan. Dengan keterbatasan ekonomi itu, mereka tetap berjuang mencari rezeki dan bukan hanya berpangku tangan mengharapkan bantuan. Mereka bekerja mencari nafkah dengan halal.

Seharusnya, kehadiran mereka bisa menjadi semangat untuk kita yang masih berusia muda. Dengan pendidikan yang lebih dan nasib yang jauh lebih beruntung dari pada mereka, kita harus lebih semangat dan optimis menghadapi hidup.

Kalau kebetulan kamu bertemu mereka di jalan, carilah alasan untuk membeli dagangan mereka.

Sumber : http://www.hipwee.com

 #1"Karena Mereka Tidak Mengemis, Tak Perlulah Menawar Habis-habisan Barang yang Mereka Jual "Ketika sedang berjalan-jal...
16/06/2015

#1
"Karena Mereka Tidak Mengemis, Tak Perlulah Menawar Habis-habisan Barang yang Mereka Jual "

Ketika sedang berjalan-jalan, pernakahn kamu bertemu pedagang kaki lima atau asongan yang menjajakan dagangan mereka? Mungkin, saat kamu kehausan di tengah macet ada seorang penjual minuman keliling yang menjajakan dagangannya di bawah terik matahari. Kamu pun bermaksud membelinya untuk sekedar membasahi tenggorokan. Namun, menurutmu harga yang ditawarkan begitu mahal. Kamu pun menawar, tapi karena harga tak kunjung turun kamu tak jadi membeli.

Di sisi lain, kamu begitu sering jajan di minimarket, mengambil barang yang ingin kamu beli tanpa perlu menawar saat akan membayar ke kasir.

Begitulah kira-kira pesan yang ingin disampaikan sebuah video berjudul ‘This Poor Coconut seller was insulted by a Rich man’. Video berbahasa India yang diunggah Varun Pruthi ini cukup viral di dunia maya dan berhasil mengumpulkan 600.000 views dan terus bertambah.

Video ini bukan bercerita tentang kisah Mahabarata atau Ramayana, seperti cerita-cerita India yang sering kamu tonton di layar kaca Indonesia. Tak ada tari-tarian. Pokoknya, jauh dari streotip cerita India yang sering dijejalkan di Indonesia. Meski bukan drama percintaan, drama dalam video ini pun cukup menyentuh. Bercerita tentang seorang penjual kelapa muda di pinggir jalan yang melakukan tugasnya sebagai penjual. Tiba-tiba, seorang pria turun dari mobil dan menghampiri penjual kelapa muda. Pria itu bertanya berapa harga sebuah kelapa muda dan pedagang itu menjawabnya. Pria tersebut terkejut dengan harga yang diberikan dan kemudian menawarnya, tapi pedagang tersebut menolak.

“Pak, saya seharian berdiri di sini di bawah terik matahari…” begitu kira-kira yang diucapkan pedagang tersebut dengan sopan.

Yang terjadi, pria tersebut malah memaki pedagang tersebut dan menyebutnya perampok. Pria tersebut kemudian pergi meninggalkan pedagang yang hanya bisa berlapang dada dihina seperti itu. Tak beberapa lama, pria tersebut kembali lewat sembari membawa sebotol minuman. Pedagang kelapa muda itu pun bertanya berapa harga minuman tersebut. Yang ternyata harganya sama dengan harga kelapa muda yang ditawarkan penjual itu. Lalu penjual tersebut bertanya kembali berapa harga yang ditawar oleh pria tersebut. Pria tersebut terkejut dan berkata bahwa ini adalah minuman bermerek tidak mungkin ditawar.

“Untuk minuman bermerek kamu tidak menawar, untuk pedagang miskin kamu menawar,” ujar pedagang tersebut.

https://youtu.be/uZcPtI7McjY
Sumber : http://www.hipwee.com

This coconut seller was insulted by a Rich man then He gave him a reply Rich man will Never forget... Please share to support the Message... Join our efforts...

09/05/2015

Momen ketika Tentara pulang dari tugas dan menemui keluarga mereka.

MENGHARUKAN.

" Kisah Bapak Tua Penjual Amplop"Setiap menuju ke Masjid Salman ITB untuk shalat Jumat saya selalu melihat seorang bapak...
19/04/2015

" Kisah Bapak Tua Penjual Amplop"

Setiap menuju ke Masjid Salman ITB untuk shalat Jumat saya selalu melihat seorang bapak tua yang duduk terpekur di depan dagangannya. Dia menjual kertas amplop yang sudah dibungkus di dalam plastik. Sepintas barang jualannya itu terasa “aneh” di antara pedagang lain yang memenuhi pasar kaget di seputaran Jalan Ganesha setiap hari Jumat.Pedagang di pasar kaget umumnya berjualan makanan, pakaian, DVD bajakan, barang mainan anak, sepatu dan barang-barang asesori lainnya. Tentu agak aneh dia “nyempil” sendiri menjual amplop.

Kehadiran bapak tua dengan dagangannya yang tidak laku-laku itu menimbulkan rasa iba. Siapa sih yang mau membeli amplopnya itu? Tidak satupun orang yang lewat menuju masjid tertarik untuk membelinya. Lalu lalang orang yang bergegas menuju masjid Salman seolah tidak mempedulikan kehadiran bapak tua itu.

Kemarin ketika hendak shalat Jumat di Salman saya melihat bapak tua itu lagi sedang duduk terpekur. Saya sudah berjanji akan membeli amplopnya itu usai shalat, meskipun sebenarnya saya tidak terlalu membutuhkan benda tersebut. Yach, sekedar ingin membantu bapak itu melariskan dagangannya. Seusai shalat Jumat dan hendak kembali ke kantor, saya menghampiri bapak tadi. Saya tanya berapa harga amplopnya dalam satu bungkusan plastik itu. “Seribu”, jawabnya dengan suara lirih. Oh Tuhan, harga sebungkus amplop yang isinnya sepuluh lembar itu hanya seribu rupiah? Uang sebesar itu hanya cukup untuk membeli dua gorengan bala-bala pada pedagang gorengan di dekatnya. Uang seribu rupiah yang tidak terlalu berarti bagi kita, tetapi bagi bapak tua itu sangatlah berarti. Saya tercekat dan berusaha menahan air mata keharuan mendengar harga yang sangat murah itu. “Saya beli ya pak, sepuluh bungkus”, kata saya.

Bapak itu terlihat gembira karena saya membeli amplopnya dalam jumlah banyak. Dia memasukkan sepuluh bungkus amplop yang isinya sepuluh lembar per bungkusnya ke dalam bekas kotak amplop. Tangannya terlihat bergetar ketika memasukkan bungkusan amplop ke dalam kotak.

Saya bertanya kembali kenapa dia menjual amplop semurah itu. Padahal kalau kita membeli amplop di warung tidak mungkin dapat seratus rupiah satu. Dengan uang seribu mungkin hanya dapat lima buah amplop. Bapak itu menunjukkan kepada saya lembar kwitansi pembelian amplop di toko grosir. Tertulis di kwitansi itu nota pembelian 10 bungkus amplop surat senilai Rp7500. “Bapak cuma ambil sedikit”, lirihnya. Jadi, dia hanya mengambil keuntungan Rp250 untuk satu bungkus amplop yang isinya 10 lembar itu. Saya jadi terharu mendengar jawaban jujur si bapak tua. Jika pedagang nakal ‘menipu’ harga dengan menaikkan harga jual sehingga keuntungan berlipat-lipat, bapak tua itu hanya mengambil keuntungan yang tidak seberapa. Andaipun terjual sepuluh bungkus amplop saja keuntungannya tidak sampai untuk membeli nasi bungkus di pinggir jalan. Siapalah orang yang mau membeli amplop banyak-banyak pada zaman sekarang? Dalam sehari belum tentu laku sepuluh bungkus saja, apalagi untuk dua puluh bungkus amplop agar dapat membeli nasi.

Setelah selesai saya bayar Rp10.000 untuk sepuluh bungkus amplop, saya kembali menuju kantor. Tidak lupa saya selipkan sedikit uang lebih buat bapak tua itu untuk membeli makan siang. Si bapak tua menerima uang itu dengan tangan bergetar sambil mengucapkan terima kasih dengan suara hampir menangis. Saya segera bergegas pergi meninggalkannya karena mata ini sudah tidak tahan untuk meluruhkan air mata. Sambil berjalan saya teringat status seorang teman di fesbuk yang bunyinya begini: “bapak-bapak tua menjajakan barang dagangan yang tak laku-laku, ibu-ibu tua yang duduk tepekur di depan warungnya yang selalu sepi. Carilah alasan-alasan untuk membeli barang-barang dari mereka, meski kita tidak membutuhkannya saat ini. Jangan selalu beli barang di mal-mal dan toko-toko yang nyaman dan lengkap….”.

Si bapak tua penjual amplop adalah salah satu dari mereka, yaitu para pedagang kaki lima yang barangnya tidak laku-laku. Cara paling mudah dan sederhana untuk membantu mereka adalah bukan memberi mereka uang, tetapi belilah jualan mereka atau pakailah jasa mereka. Meskipun barang-barang yang dijual oleh mereka sedikit lebih mahal daripada harga di mal dan toko, tetapi dengan membeli dagangan mereka insya Allah lebih banyak barokahnya, karena secara tidak langsung kita telah membantu kelangsungan usaha dan hidup mereka.

Dalam pandangan saya bapak tua itu lebih terhormat daripada pengemis yang berkeliaran di masjid Salman, meminta-minta kepada orang yang lewat. Para pengemis itu mengerahkan anak-anak untuk memancing iba para pejalan kaki. Tetapi si bapak tua tidak mau mengemis, ia tetap kukuh berjualan amplop yang keuntungannya tidak seberapa itu.

Di kantor saya amati lagi bungkusan amplop yang saya beli dari si bapak tua tadi. Mungkin benar saya tidak terlalu membutuhkan amplop surat itu saat ini, tetapi uang sepuluh ribu yang saya keluarkan tadi sangat dibutuhkan si bapak tua.

Sumber : rinaldimunir.wordpress.com

Address

Kajoran
Magelang

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Desainer Kampung posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to Desainer Kampung:

Share