Acceleration Class

Acceleration Class Acceleration Class Adalah Program Kelas percepatan yang mempersingkat proses pembelajaran dari 3 ta

19/08/2017

Bukan hanya pengalaman sebagai siswa kela akselerasi, dalam hal apapun seyogyanya juga bertindak secara akselerasi..

18/08/2016

Semoga Kelas Akselerasi Dihapuskan

Pada hari Jumat 17 Januari 2014 yang lalu, saya membaca sebuah artikel di bagian belakang koran Jawa Pos dengan sebuah headline dicetak besar “Kelas Akselerasi Bakal Dihapus”. Saya tersenyum (lega) membacanya.

Seperti telah kita ketahui bersama, kelas akselerasi adalah kelas khusus yang diperuntukkan bagi para siswa berkemampuan istimewa dengan sistem percepatan masa studi. Sekolah Dasar (SD) yang umumnya ditempuh selama enam tahun dapat diperpendek menjadi lima tahun melalui kelas akselerasi. Begitu juga SMP dan SMA, dimana masing-masing jenjang dapat dipercepat menjadi dua tahun. Oleh karena itu, kelas akselerasi menawarkan “diskon” tiga tahun apabila siswa dapat melampaui kelas tersebut sejak dari SD hingga SMA.

Tetapi sudah banyak bermunculan pro dan kontra, baik di kalangan masyarakat maupun para pemerhati pendidikan, sejak pertama kali program akselerasi (percepatan belajar) tersebut digulirkan oleh Pemerintah.

Mereka yang mendukung kelas akselerasi kebanyakan mendasarkan argumennya pada perlunya sebuah kelas khusus bagi para siswa yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa. Seperti yang tertuang dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional, bahwa “setiap peserta didik pada setiap satuan pendidikan berhak mendapatkan pelayanan pendidikan sesuai dengan bakat, minat dan kemampuannya” (pasal 12, ayat 1b) dan “warga negara yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa berhak memperoleh pendidikan khusus” (pasal 5, ayat 4).

Di samping itu, kelas akselerasi juga diharapkan dapat mengakomodasi kemampuan para siswa yang jauh melebihi rata-rata, sehingga siswa tidak jenuh berada di dalam kelas atau bahkan berprestasi di bawah potensi yang dimilikinya (underachiever). Oleh karenanya, kelas akselerasi sangat diperlukan agar siswa yang memiliki kecerdasan dan bakat istimewa tersebut dapat berkembang dan berprestasi sesuai dengan potensinya.

Namun, satu per satu kekhawatiran pihak-pihak yang selama ini ragu dengan kelas akselerasi mulai bermunculan. Kemendikbud sebagai lembaga pengemban amanah pendidikan pun ikutan galau dengan melemparkan wacana penghapusan kelas akselerasi. Seperti yang diungkapkan oleh Abdullah Alkaff, Staf Ahli Bidang Organisasi dan Manajemen, bahwa kelas akselerasi selama ini hanya menampung para siswa yang pandai dalam beberapa mata pelajaran, sementara mata pelajaran yang lain saling berkaitan.
Di sisi lain, mata pelajaran yang selama ini dianggap mewakili kecerdasan siswa nyatanya selalu mata pelajaran berbasis eksak, sehingga terjadi diskriminasi terhadap mata pelajaran non-eksak.

Belum lagi jika kita perluas skala dan dimensi mata pandang ke wilayah-wilayah terkait program akselerasi yang selama ini jarang kita satroni, akan tampak realitas yang ada ternyata jauh lebih kompleks ketimbang apa yang selama ini kita bayangkan.

Dehumanisasi adalah gejala yang paling mudah kita identifikasi. Siswa sibuk berkutat dengan tugas dan textbook sehingga lupa dengan realitas sosial mereka. Aspek afektif siswa cenderung terbengkalai kerena selama ini pengajaran di kelas akselerasi hanya berfokus pada aspek kognitif. Hal ini menyebabkan arogansi dan cara berpikir “elitis” yang membuat siswa susah bergaul dengan siswa-siswa reguler. Salah satu akibatnya, siswa-siswa akselerasi kemudian membentuk “komunitas eksklusif”, yang nantinya menciptakan gap antara kelas akselerasi dengan kelas reguler.

Permasalahan yang lain adalah kondisi mental dan psikologi siswa. Banyak siswa akselerasi selama ini menjadi “korban” demi pemenuhan “orgasme” gengsi orangtua dan sekolah. Orang tua memaksakan anak-anak mereka masuk di kelas akselerasi agar status sosial mereka dapat terangkat. Padahal, di belakang itu semua anak mereka sedang jatuh bangun, ngos-ngosan agar tetap bisa mengejar target akselerasi. Dan sekolah pun ikut bertaruh gengsi lewat program akselerasi ini, yakni demi status sebagai “Sekolah Unggulan”. Dari sini saja sangat kentara potensi terjadinya nepotisme antara orangtua siswa dengan sekolah. Oleh sebab itu, pemenuhan-pemenuhan gengsi tersebut sesungguhnya adalah nama lain dari pemerkosaan hak anak.

Lalu, persoalan lainnya adalah terkait guru dan kurikulum. Tidak sedikit guru di kelas akselerasi yang belum pernah mendapatkan pelatihan khusus dalam mengajar kelas akselerasi. Akibatnya, cara mengajar guru tersebut tidak ada bedanya dengan mengajar kelas reguler, sehingga siswa dibebani tugas yang begitu banyak demi “kejar setoran”. Jika ini yang terjadi, kelas akselerasi sesungguhnya cuma kumpulan “siswa-siswa reguler” yang memiliki beban tugas lebih banyak dari siswa-siswa reguler pada umumnya.

Kurikulum yang dipakai di kelas akselerasi pun juga berbeda, yakni kurikulum diferensiasi. Ini adalah kurikulum yang dimodifikasi sesuai dengan masa studi, kemampuan inteletual, kecepatan belajar serta minat siswa. Apabila kurikulum yang dipakai pun juga tidak sesuai dengan kebutuhan kelas akselerasi, lagi-lagi kelas akselerasi hanyalah gambaran kelas reguler yang dipercepat masa studinya.

Sebagai penutup, ada dua hal yang ingin saya pertanyakan terkait perasaan siswa akselerasi dan tujuan dasar dari kelas akselerasi. Bagaimanakah perasaan seorang anak yang masih berusia 14-15 tahun berkawan dengan teman-teman sekampus yang usianya terpaut cukup jauh darinya? Dan apakah kelas akselerasi hanya sebagai percepatan masa studi ataukah sebagai kanal-kanal penyalur minat dan bakat siswa? Apabila kelas akselerasi yang dimaksud adalah kelas reguler yang cuma dipercepat waktunya, bukan sebagai wadah pengembangan minat dan bakat siswa, sangat tepat menurut saya wacana keputusan Pemerintah untuk menghapuskan kelas akselerasi, apalagi jika wacana tersebut benar-benar direalisasikan. Semoga saja.

dikuitip dari http://rvdeviansyah.blogspot.co.id/2014/02/semoga-kelas-akselerasi-dihapuskan.html

bagaimana menurut anda ?

07/04/2016

Mari ber syair..
betapa memalukan nya si PUNGGUK..
si PUNGGUK. tetap meRINDU sang BULAN..
padahal si PUNGGUK tahu...
sang BULAN telah dimiliki oleh MATAHARI...

22/07/2015

Ketika kita sedang mengendarai mobil atau motor dengan santainya dan tiba-tiba sebuah mobil atau motor yang berada tepat di depan kita mengejutkan kita dengan berbelok arah tanpa memberi isyarat lampu sein , pasti hati kita terasa panas

Positivethinkingaja
Mungkin lampu sein mobil atau motor sedang rusak dan pengendara mobil atau motor tersebut belum mengetahuinya

17/02/2015
19/12/2013
19/12/2013


like ya

19/12/2013

@ #[242670885896050:]

yg mo promusi dell tanda # yaa

19/12/2013

yang Perlu Diketahui Tentang Kelas Akselerasi (+2)

,

Pada beberapa sekolah diadakan program kelas akselerasi. Biasanya kelas akselerasi menjadi cita-cita sebagian besar orangtua murid agar anaknya masuk ke dalam kelas tersebut. Terutama murid-murid yang memiliki prestasi tinggi.

Yang mungkin tidak diketahui orangtua murid adalah bahwa ternyata anak dengan prestasi yang bagus belum tentu dapat memasuki kelas akselerasi. Hal inilah yang sering menimbulkan rasa tidak puas.

Kalau begitu, sudah menjadi tugas Guraru untuk menjelaskan pada orangtua murid mengenai kelas akselerasi ini.

Apa sih kelas akselerasi?

Kelas ini adalah kelas khusus, di mana program KBMnya dibuat sedemikian rupa, sehingga dapat membuat anak-anak berbakat berprestasi maksimal. Programnya sendiri biasanya berlangsung lebih pendek dari kelas pada umumnya, misalnya beban pelajaran yang secara umum harus diselesaikan selama 3 tahun, di kelas akselerasi diselesaikan dalam 2 tahun.

Siapa anak berbakat itu?

Anak berbakat yang dimaksud adalah anak-anak dengan intelegensia tinggi, juga disertai kreativitas dan motivasi yang tinggi.

Siapa peserta kelas akselerasi?

Pada umumnya, sekolah-sekolah menetapkan anak dengan tingkat intelegensia (IQ) 130 sebagai syarat dasar. Akan tetapi, anak-anak dengan IQ di atas 130 juga perlu dilihat dari bukti motivasi dan kreatifitasnya. Karena anak dengan IQ di atas 130, namun tidak menunjukkan prestasi belum tentu bisa masuk program kelas akselerasi.

Begitu juga jika motivasi si anak tidak tinggi, dia tidak bisa mengikuti kelas akselerasi, karena dia perlu mendapat pertolongan atau dorongan untuk mengerjakan segala sesuatunya.

Anak-anak berIQ kurang dari 130, tetapi berprestasi dan memiliki daya juang atau semangat belajar yang tinggi, sebaiknya tidak masuk kelas akselerasi, karena akan membuat dirinya tidak mencapai hasil belajar yang maksimal.

Program di Kelas akselerasi

Kurikulum kelas akselerasi harus disesuaikan dengan anak dengan kecerdasan tinggi. Kemandirian, proses berpikir kreatif dan tinggi, kecepatan dan kompleksitas sangat dibutuhkan. Untuk itu dibutuhkan guru-guru yang menguasai bidangnya secara dalam dan luas, berpengalaman serta berkepribadian matang.

Jadi, orangtua yang ingin memasukkan anaknya ke kelas akselerasi perlu melihat kurikulum dan guru-guru yang mengajar di kelas itu. Jika metode pembelajarannya sama dengan kelas umum, hanya materinya saja yang dipadatkan, sebaiknya orangtua berpikir ulang

sumber "INTERNET''
M'f jika ada kata-kata yang salah
__

19/12/2013

yang Perlu Diketahui Tentang Kelas Akselerasi (+2)

,

Pada beberapa sekolah diadakan program kelas akselerasi. Biasanya kelas akselerasi menjadi cita-cita sebagian besar orangtua murid agar anaknya masuk ke dalam kelas tersebut. Terutama murid-murid yang memiliki prestasi tinggi.

Yang mungkin tidak diketahui orangtua murid adalah bahwa ternyata anak dengan prestasi yang bagus belum tentu dapat memasuki kelas akselerasi. Hal inilah yang sering menimbulkan rasa tidak puas.

Kalau begitu, sudah menjadi tugas Guraru untuk menjelaskan pada orangtua murid mengenai kelas akselerasi ini.

Apa sih kelas akselerasi?

Kelas ini adalah kelas khusus, di mana program KBMnya dibuat sedemikian rupa, sehingga dapat membuat anak-anak berbakat berprestasi maksimal. Programnya sendiri biasanya berlangsung lebih pendek dari kelas pada umumnya, misalnya beban pelajaran yang secara umum harus diselesaikan selama 3 tahun, di kelas akselerasi diselesaikan dalam 2 tahun.

Siapa anak berbakat itu?

Anak berbakat yang dimaksud adalah anak-anak dengan intelegensia tinggi, juga disertai kreativitas dan motivasi yang tinggi.

Siapa peserta kelas akselerasi?

Pada umumnya, sekolah-sekolah menetapkan anak dengan tingkat intelegensia (IQ) 130 sebagai syarat dasar. Akan tetapi, anak-anak dengan IQ di atas 130 juga perlu dilihat dari bukti motivasi dan kreatifitasnya. Karena anak dengan IQ di atas 130, namun tidak menunjukkan prestasi belum tentu bisa masuk program kelas akselerasi.

Begitu juga jika motivasi si anak tidak tinggi, dia tidak bisa mengikuti kelas akselerasi, karena dia perlu mendapat pertolongan atau dorongan untuk mengerjakan segala sesuatunya.

Anak-anak berIQ kurang dari 130, tetapi berprestasi dan memiliki daya juang atau semangat belajar yang tinggi, sebaiknya tidak masuk kelas akselerasi, karena akan membuat dirinya tidak mencapai hasil belajar yang maksimal.

Program di Kelas akselerasi

Kurikulum kelas akselerasi harus disesuaikan dengan anak dengan kecerdasan tinggi. Kemandirian, proses berpikir kreatif dan tinggi, kecepatan dan kompleksitas sangat dibutuhkan. Untuk itu dibutuhkan guru-guru yang menguasai bidangnya secara dalam dan luas, berpengalaman serta berkepribadian matang.

Jadi, orangtua yang ingin memasukkan anaknya ke kelas akselerasi perlu melihat kurikulum dan guru-guru yang mengajar di kelas itu. Jika metode pembelajarannya sama dengan kelas umum, hanya materinya saja yang dipadatkan, sebaiknya orangtua berpikir ulang

sumber "INTERNET''
M'f jika ada kata-kata yang salah

Address

Tulungagung
66293

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Acceleration Class posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share